Pukul 22.00. Hujan rintik di kawasan Menteng sudah berhenti, berganti kabut tipis yang menggantung di pucuk mahoni. Di ruang perpustakaan bawah, lampu gantung perunggu memancarkan cahaya kuning redup, menjadi satu-satunya penerangan di rumah tua yang sunyi. Menteri teknis sudah pulang melalui gerbang samping, meninggalkan aroma kayu cendana dan sisa teh putih yang mendingin di cangkir porselen. Auroran Wijaya masih duduk di kursi jati utama, menatap tumpukan dokumen yang sudah tersegel dengan stempel basah kementerian dan tanda tangan kurator negara. Bros pin emas jangkar dan padi di saku kemejanya sesekali memantulkan cahaya saat ia menggerakkan jari. Di hadapannya, Profesor Danuarta memasukkan sisa berkas administratif ke tas kulit prusia dengan rapi. "Tuan Muda, dengan penyerahan lembaran negara malam ini, kewenangan fiskal atas Dermaga Dua sudah lepas dari jangkauan hukum faksi Kebayoran Baru," Profesor Danuarta berbisik pelan.
Read more