Pukul 06.00 pagi. Cahaya matahari Surabaya yang masih pucat menyentuh dinding bata ekspos di ruang tengah Menteng, membuat garis bayangan yang tenang di lantai. Nayaka berdiri di dekat jendela besar yang menghadap taman belakang, melihat embun pagi masih menempel di kelopak mawar, berkilau di bawah cahaya. Ia memegang cangkir keramik berisi teh hijau yang masih mengepul, tapi pikirannya tidak melayang ke data atau analisis siber. Ia hanya menikmati berada di sini, saat ini, tanpa bayang-bayang hari esok yang menuntut pengawasan. Tiga bulan lalu di jam yang sama, Nayaka akan menghabiskan pagi dengan memindai layar enkripsi, mencari sinyal mencurigakan dari faksi Kebayoran Baru yang mencoba masuk ke sistem pelabuhan Marunda. Hari ini, layar itu sudah mati, terkubur di bawah tumpukan sejarah yang ia biarkan jadi masa lalu. Menteng tidak lagi terasa seperti bunker yang disamarkan jadi rumah. Ia sudah kembali jadi rumah, tempat yang hidup, tumbuh, dan memulihkan diri.
Read more