“Kalian untuk sementara tinggal disini saja,” kata Pak Beni saat makan malam telah usai dan mereka berkumpul di ruang tengah.“Di rumah ini ramai yang akan memantau Aluna. Kalau disana cuma ada Mbak Jum,” sambung Pak Beni.“Nggak apa-apa, Yah. Kami masih disana aja,” jawab Ragil.“Kamu itu juga jarang di rumah, Ragil. Bulan depan kamu juga akan pergi ke Taiwan urusan marger itu,” kata Pak Beni lagi.Aluna langsung menoleh cepat ke arah Ragil dengan dahi yang mengernyit.“Mas mau ke Taiwan?” tanyanya pelan.“Kamu belum tahu?” tanya Pak Beni yang menatap heran ke arah mereka.Aluna kemudian menggeleng pelan.“Maaf, Sayang. Aku kelupaan terus mau kasih tahu kamu,” ucap Ragil dengan nada penuh penyesalan.“Sampai rumah aku udah capek, langsung istirahat, jadinya lupa,” sambungnya.Aluna hanya mengangguk pelan, seolah dirinya paham. Dirinya pun tersenyum tipis agar sang ayah tidak merasa khawatir terhadap dirinya.“Memangnya berapa lama, Mas?” tanya Aluna lagi.“Nggak bisa aku pastiin sih.
Leer más