“Aku pulang dulu ya, Lun,” pamit Ririn saat waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore.“Kok cepat?” tanya Aluna dengan nada sedikit kecewa.“Aku mau tidur bentar dulu sebelum nanti piket malam,” jawab Ririn yang sudah berdiri.“Iya deh,” ucap Aluna dengan nada lesu. Ia ikut berdiri dan mengantarkan Ririn hingga teras rumah.“Lun ingat ya…”“Apaan?” tanya Aluna yang bingung.Ririn menatap intens ke arah Aluna, sedang Aluna yang ditatap seperti itu membuatnya semakin bingung.“Jangan terlalu intens komunikasi dengan Kak Dirga,” katanya.“Aku nggak tahu maksudnya Kak Dirga sampai sebegitu perhatiannya sama kamu, sampai-sampai ngirimin kamu makanan seperti tadi,” ucap Ririn.“Karena dia teman dekatnya Mas Ragil, Rin,” jawab Aluna cepat.“Walaupun teman dekat, tapi tetap nggak wajar, Lun,” sanggah Ririn. “Coba kamu pikir, wajar nggak kira-kira apa yang dia lakukan? Pikirkan secara rasional, Lun,”kata Ririn lagi terakhir sebelum akhirnya ia benar-benar pamit dan masuk ke dalam mobilnya.Alu
Leer más