“Aku ikut ke kantor ya, Yah,” pinta Aluna sambil menatap sang ayah dengan mata berbinar penuh harap.Pak Beni mengalihkan pandangannya yang semula ke arah halaman rumah kini menatap ke arah Aluna. Dahi pria itu berkerut tipis menatap putri tunggalnya.“Mau ngapain kamu ke kantor? Hari ini Ayah sama Ragil sibuk. Dari pagi sampai sore isinya rapat semua.”“Nggak apa-apa, Yah,” balas Aluna cepat. “Nanti aku bisa nunggu di ruangan Mas Ragil atau di ruangan Ayah. Kalau udah capek, aku pulang sama sopir.”“Kamu yakin nggak bosan?” tanya Pak Beni.“Daripada di rumah terus,” jawab Aluna sambil memajukan bibirnya sedikit. “Aku bosan, Yah.”Pak Beni terdiam sejenak. Ia tahu putrinya pasti sangat bosan berada di rumah walaupun banyak ART yang menemani. Apalagi selama Ragil berada di luar negeri, Aluna hampir tidak memiliki kegiatan selain kontrol kehamilan, menemani dirinya, dan sesekali pergi bersama Ririn.“Di kantor nggak ada yang bisa nemenin kamu,” ujar Pak Beni lagi.“Nggak apa-apa. Luna b
Leer más