Minggu-minggu berlalu di lereng Gunung Salak. Kabut yang biasanya hanya lewat kini seolah menetap, mengepung vila tua itu dalam kesunyian yang mencekam. Arina kini memasuki pertengahan trimester kedua. Perutnya sudah terlihat jelas, sebuah tonjolan yang menjadi pusat semesta bagi Juno. Ukuran perutnya juga lebih besar karena kehamilan kembar. Namun, seiring dengan tumbuhnya sang buah hati, tantangan yang dihadapi Arina semakin berat. Setiap pagi, Arina tidak lagi terbangun karena alarm, melainkan karena bisikan energi yang merambat di sarafnya. Bayi-bayi itu tumbuh dengan kecepatan yang tak lazim, mereka seolah-olah sedang membangun pertahanannya sendiri di dalam rahim. "Mereka sedang memetakan sekeliling kita, Juno," bisik Arina suatu pagi saat mereka duduk di beranda. Arina memejamkan mata, dan melalui Penglihatan Biru yang semakin tajam, ia bisa merasakan keberadaan makhluk hidup di sekitar vila. Ia bisa merasakan jantung burung yang berdetak di atas pohon, hingga lang
Read more