Mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Garendra, dahi Anthony berkerut dalam. Ada kilat kebingungan yang defensif di matanya. "Apa maksudmu?!"Plak!!Suara tamparan keras memecah keheningan, menggema ngilu di dinding-dinding lembap ruangan pengap tersebut. Sentakan itu begitu kuat hingga kepala Anthony terlempar ke samping. Garendra menatapnya dengan sepasang mata yang menyalang bengis—dingin, tanpa ampun, layaknya predator yang sedang menyudutkan mangsanya."Kau ... jangan berlagak bodoh di depanku, Anthony!" desis Garendra. Suaranya rendah, namun sarat akan ancaman yang mematikan. "Kau pikir aku tidak tahu? Kau yang menyuruh anjing-anjingmu untuk menembakku malam itu, kan?!"Anthony meringis, giginya gemeletuk menahan rasa panas yang menjalar hebat di pipinya. Ia meludah ke samping; cairan merah pekat merembes dari sudut bibirnya yang robek. Dengan sisa napas yang memburu, ia mendongak, mencoba menantang sorot mata Garendra."Aku bahkan tidak tahu bajingan mana yang sudah m
Read more