Perjalanan menuju Mansion Wiratama berlangsung dalam keheningan yang tidak biasa. Mobil hitam yang ditumpangi Garendra melaju membelah jalanan kota sejak matahari masih malu-malu menampakkan dirinya. Dari balik kaca jendela, bangunan-bangunan tinggi berlalu begitu saja tanpa benar-benar menarik perhatian pria itu. Tatapannya lurus ke depan, tetapi pikirannya masih terjebak di dalam gudang tua bersama pengakuan Anthony yang terus berputar tanpa henti.Di kursi depan, Angga sesekali melirik ke arah kaca spion tengah. Ia mengetahui betul, semakin diam Garendra, semakin berbahaya badai yang sedang berkecamuk di dalam kepalanya. Sejak bekerja bertahun-tahun di bawah pria itu, Angga hafal bahwa ketenangan Garendra bukanlah pertanda semuanya baik-baik saja. Justru ketika sang tuan terlihat begitu tenang, biasanya seseorang sedang berada di ambang kehancuran.Tak lama kemudian, mobil memasuki gerbang utama Mansion Wiratama. Pagar besi raksasa itu terbuka perlahan, memperlihatkan halaman luas
Baca selengkapnya