Ruangan bawah tanah itu begitu hening, menyisakan kesunyian yang mencekam sekaligus mengintimidasi. Hanya terdengar kepakan samar dari serangga malam yang beterbangan, mengitari pendar redup lampu neon yang berkedip di langit-langit. Udara di dalam sana terasa teramat pengap, berat, dan dipenuhi atmosfer kematian yang pekat. Garendra melangkah santai, menyeret sebuah kursi kayu tua hingga menimbulkan suara derit nyaring yang membelah keheningan. Dengan gerakan yang teramat tenang namun sarat akan intimidasi, pria itu merogoh saku jas mahalnya. Ia mengeluarkan sebuah pemantik perak dan sebatang cerutu berlogo premium. Api menyala, membakar ujung cerutu. Garendra menyesapnya dalam-dalam, membiarkan nikotin membakar kerongkongannya sebelum mengembuskan asap abu-abu pekat itu perlahan melalui rongga hidungnya. "Bagaimana kabarmu, Fan? Betah di sini?" Sebelah sudut bibir Garendra menukik tajam, membentuk seringai dingin yang mengerikan. Sambil memiringkan kepalanya sedikit ke kiri,
Read more