Pagi itu, langit masih diselimuti warna kelabu ketika bunyi bel apartemen memecah keheningan. Marsya yang semalaman nyaris tidak memejamkan mata sontak terlonjak. Sejak menerima pesan misterius itu, pikirannya dipenuhi bayangan mobil hitam yang terparkir di seberang jalan. Ia bahkan berkali-kali mengintip dari balik tirai, memastikan kendaraan itu benar-benar telah pergi menjelang dini hari. Namun, ketakutan itu ternyata belum berakhir. Bel kembali berbunyi. Kali ini lebih panjang. Dengan langkah pelan, Marsya mendekati pintu. Jemarinya gemetar ketika mengintip melalui peephole. Seorang pria berdiri tegak di depan sana. Mengenakan kemeja hitam dengan jas abu-abu gelap, kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana. Wajahnya datar, tanpa senyum, tanpa amarah. Angga. Marsya memejamkan mata sejenak sebelum akhirnya membuka kunci. Pintu baru terbuka beberapa senti ketika Angga sudah lebih dulu mendorongnya perlahan. "Boleh masuk?" Kalimat itu terdengar seperti pertanyaan,
Read more