Tiga hari telah berlalu sejak pertemuan itu. Tidak ada satu pun kabar dari Garendra yang sampai kepada Arumi. Tidak ada telepon. Tidak ada pesan singkat. Bahkan tidak ada bunga, surat, atau pun seseorang yang sengaja diutus untuk menemuinya. Pria itu benar-benar menepati ucapannya. Ia memilih memberi ruang, meski setiap detik yang berlalu terasa seperti hukuman yang perlahan menggerogoti dirinya. Sementara itu, Arumi benar-benar telah meninggalkan Mansion Wiratama. Rumah megah yang selama ini menjadi tempatnya pulang, kini hanya tinggal kenangan yang terlalu menyakitkan untuk ditoleh. Ia tidak membawa banyak barang. Hanya sebuah koper berisi pakaian seperlunya, beberapa album foto lama, cerm8n retak, serta bingkai kecil yang diam-diam masih menyimpan foto dirinya bersama Garendra. Berkali-kali ia berniat membuang foto itu ke tempat sampah, tetapi setiap kali jemarinya hendak melepaskannya, dadanya justru terasa sesak hingga sulit bernapas. Pada akhirnya, foto itu tetap ia simpan.
Read more