"Lalu, menurutmu, apa yang harus kulakukan sekarang?" Suara Garendra yang rendah dan berat mendadak memecah keheningan di dalam mobil. Nada bicaranya tetap datar, tetapi terselip kelelahan yang selama ini berusaha ia sembunyikan. Mendengar pertanyaan itu, Angga perlahan menepikan mobil ke bahu jalan. Sesaat kemudian, ia mengembuskan napas panjang sebelum mematikan mesin. Suasana di antara mereka kembali sunyi, hanya menyisakan desiran angin yang menyelinap dari balik kaca. Angga menoleh ke arah pria yang telah bertahun-tahun ia hormati. "Tuan benar-benar ingin mendengar pendapat saya?" Garendra mengangguk pelan tanpa mengubah ekspresinya. Tatapannya tetap lurus ke depan, seolah telah siap menerima jawaban apa pun, sekalipun itu akan menghancurkan hatinya. "Kalau begitu, ceraikan Marsya," ucap Angga tegas sambil menatap Garendra tanpa berkedip. "Setelah itu, kejarlah Nyonya Arumi jika memang Tuan masih mencintainya. Namun, jika sampai detik ini Tuan masih merasa berat melepas
Read more