Marsya meronta sekuat tenaga. Tubuhnya menggeliat liar, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Angga yang mencapit lengannya bagaikan belenggu besi. Kuku-kuku wanita itu menggores kulit lengan pria tersebut tanpa ampun, meninggalkan bekas kemerahan. Namun, sedikit pun Angga tidak bersuara. Tatapan matanya tetap datar, dingin, tanpa belas kasihan, seolah wanita yang tengah berteriak di hadapannya bukan lagi manusia yang patut dikasihani, melainkan seorang pesakitan yang sedang dijemput menuju tempat penghakiman.Di sisi lain, Garendra berdiri beberapa langkah dari mereka. Tubuh tegapnya menjulang dalam diam, kedua tangan tersimpan di balik saku celana. Wajahnya nyaris tanpa ekspresi, tetapi sorot matanya begitu tajam hingga sanggup membuat udara di ruangan itu berubah semakin pengap. Ia tidak berniat menghentikan Angga. Tidak pula menunjukkan sedikit rasa iba."Angga ... tolong ...." Suara Marsya mulai pecah. Napasnya memburu, sementara air mata perlahan memenuhi pelupuk matanya. "D
Read more