"Kedua tangannya," jawab Arumi dengan suara yang menusuk, dingin, dan bergetar hebat.Wanita itu melangkah satu tapak ke depan, menatap sengit ke arah Hendrawan dengan tatapan nyalang dipenuhi dendam yang membara. "Kedua tangan busuk itu yang tak pernah ragu melayangkan pukulan, mencambuk, dan menyiksaku seolah aku ini bukan manusia!"Garendra meremas pundak Arumi semakin erat. Jemarinya mencengkeram kuat, menjadi penyalur rasa murka yang membakar dadanya. Pembuluh darah di leher Garendra menegang hebat; ia tak terima, sama sekali tak terima membayangkan wanita yang ia cintai pernah dihancurkan secara fisik oleh pria yang kini terkulai tak berdaya di hadapan mereka."Baron!" panggil Garendra dengan suara berat nan menggema.Dari balik kegelapan sudut ruangan, seorang pria bertubuh kekar dengan wajah tanpa ekspresi melangkah maju. Baron merogoh tongkat besi tebal dari balik pinggangnya dan mendekati Hendrawan. Tanpa sepatah kata pun, ia mencengkeram lengan kanan Hendrawan, siap mem
Read more