Krek...Suara gesekan kayu jendela kamar utama berderit pelan disusul hembusan angin malam musim panas yang menyejukkan. Di dalam kamar yang diterangi pendar hangat lampu minyak, suasana begitu tegang namun sarat akan keharuan. Keringat dingin bercucuran deras di pelipis Celina. Napasnya memburu tidak beraturan, sementara kedua tangannya meremas erat seprai ranjang beludru merah tua hingga berkerut."Tarik napas yang dalam, Grand Duchess... lepaskan perlahan. Bagus sekali, pertahankan!" instruksi tabib senior istana dengan nada tenang namun tegas, mengatur jalannya proses persalinan.Di sisi kanan ranjang, Lucien berlutut dengan satu kaki. Wajah pria gagah itu tampak jauh lebih pucat daripada istrinya. Tangannya menggenggam jemari Celina dengan erat, menyalurkan seluruh kekuatan dan kehangatan yang ia miliki."Kau hebat, Celina... kau pasti bisa, sayang," bisik Lucien berulang kali, mencium punggung tangan istrinya penuh cinta dan kecemasan. "Aku di sini. Aku tidak akan kemana-mana."
Read more