Pagi hari di kediaman utama Valois selalu dimulai dengan kesibukan yang teratur. Sinar matahari musim panas menyusup melalui celah-celah jendela kaca besar, menghangatkan lantai kayu marmer di koridor sayap timur. Di luar, suara burung-burung kecil bernyanyi riang menyambut hari yang cerah. Di dalam dapur istana yang luas, aroma harum kayu manis, vanila, dan panggangan roti mentega menguap pekat di udara. Marry berdiri di depan meja marmer panjang, mengenakan apron putih bersih sambil fokus mencampur adonan kue tart buah beri merah pesanan khusus untuk sarapan pagi Celina. "Jangan terlalu keras mengaduknya, Marry. Nanti adonannya bisa bantat," sebuah suara bariton yang familiar tiba-tiba terdengar dari ambang pintu dapur. Marry terperanjat kecil, lalu menoleh ke belakang. Ia mendapati Cedric bersandar santai di kusen pintu sambil melipat tangan di dada, mengenakan seragam panglima pengawal yang rapi dengan pedang tersarung di pinggangnya. Marry mendengus pelan, memutar bola matanya
Read more