Zivanya memijat pelipisnya. Ia merasa sedikit pusing. Peristiwa tadi siang masih terus menghantuinya hingga saat ini. Setiap sudut kantor seolah membisikkan nama Ariyan, Aira, dan balita yang kejang-kejang tadi. Zivanya merasa gerah. Ia muak harus selalu menjadi sosok yang menjaga kewarasan di tengah masalah yang diciptakan oleh suaminya sendiri. Maka, ketika sebuah pesan singkat dari Kaivan masuk ke ponselnya, yang mengajaknya keluar untuk sekadar mencari angin bersama Kaisar, Zivanya tidak berpikir dua kali. Ia segera merapikan berkasnya, mengambil tas, dan melangkah keluar. Ia butuh menjaga kewarasannya, dan saat ini hanya Kaivan dan Kaisar yang bisa memberikannya. Senja itu, mereka berakhir di sebuah pusat perbelanjaan besar. Di salah satu sudut kafe yang cukup privat, Zivanya menyesap caramel macchiato kesukaannya yang dipesankan Kaivan. Sementara matanya tidak lepas memandangi Kaisar yang sedang asyik mewarnai kertas gambar di meja kecil yang berada tidak jauh dari mereka.
Zuletzt aktualisiert : 2026-06-01 Mehr lesen