“Ma, aku pergi dulu,” pamit Ariyan sembari menahan perasaan cemas. Aira sendiri di apartemen, sedang berjuang melawan sakit.“Kok buru-buru? Baru juga nyampe,” kata Zelena heran.“Iya, Ma, maaf banget. Ada urusan darurat. Aku harus ke site sekarang.” Begitu lancar Ariyan berdusta.“Kamu ini, katanya pekerjaan bisa didelegasikan sama yang lain.” Zelena geleng-geleng kepala mengingat ucapan Ariyan tadi.“Iya, Ma. Tapi yang ini nggak bisa. Ini urgent, Ma. Aku–”“Itu Ziva!” seru Zelena melihat menantu kesayangannya muncul.Ariyan ikut memandang ke arah yang sama. Tampak di sana Zivanya melangkah sedikit tertatih ke arah mereka, membawa perutnya yang membola. Sebelah tangannya menjinjing sesuatu. Mungkin makanan untuk Zelena. Perempuan itu memang pandai mengambil hati mertuanya. Setelah tiba di dekat mereka, Zivanya dan Zelena saling berpelukan lalu bertukar ciuman pipi kanan dan kiri.“Kamu dari mana, Ziva?” tanya Zelena lembut begitu pelukan mereka terurai. Ia menatap menantunya dengan
最後更新 : 2026-05-23 閱讀更多