Kedua orang tua Kaivan muncul dari dalam rumah dan memberi senyum hangat pada Zivanya.“Kenapa masih berdiri, Bang? Diajak duduk dong pacarnya,” titah Andara dengan senyum menggoda.“Ma, Pa, kenalkan, ini Zivanya, teman aku, bukan p–” “Sudahlah, Kai, nggak usah malu,” potong Ananta, papanya Kaivan sebelum sang putra menyelesaikan perkataannya. Ia melangkah mendekat, mengabaikan usaha Kaivan untuk mengoreksi sebutan itu. “Papa tahu kamu memang sulit terbuka soal hati, tapi kalau sudah dibawa sampai ke rumah malam-malam begini, Papa rasa penjelasannya sudah cukup.”Zivanya hanya bisa terpaku. Lidahnya terasa kelu. Ia ingin membantu menjelaskan, tapi tidak memiliki kesempatan“Ayo duduk, Zivanya,” ujar Andara sambil menyentuh lengan Zivanya dengan lembut, seolah-olah dirinya memang benar kekasih Kaivan.Zivanya segera menyalami keduanya dengan sopan. “Selamat malam, Om, Tante. Maaf saya mampir malam-malam begini,” ucap Zivanya sambil menyerahkan kotak macaron yang tadi sempat merek
Terakhir Diperbarui : 2026-05-13 Baca selengkapnya