“Ariyan!” panggil Aira lantaran tidak mendengar suara Ariyan. “Aku mual, nggak sanggup sendiri.”Zivanya menarik napas panjang, membiarkan keheningan malam menambah kesan dingin dalam suaranya. Ia tersenyum tipis saat membayangkan ekspresi Aira di seberang sana."Halo, Kak Aira. Maaf ya, Ariyan lagi tidur," ujarnya dengan nada santai.Suasana di seberang telepon mendadak senyap. Aira tampaknya terkejut menyadari siapa yang mengangkat panggilan."Zivanya?" sebut Aira kaget. "Ari mana?”“Udah kubilang Ari lagi tidur, Kak.”“Bangunkan dia. Aku mau bicara.""Duh, Kak, aku nggak tega banguninnya. Kasihan, dia capek banget malam ini," jawab Zivanya sembari memainkan ujung bajunya. "Kakak tahu sendiri, kan, kalau laki-laki sudah puas dan energinya terkuras habis di atas ranjang, tidurnya jadi seperti orang mati. Banguninnya susah."Terdengar embusan napas yang dibuang dengan kasar."Kamu bohong! Ariyan nggak mungkin…” Aira tidak tahu harus melanjutkan kalimatnya dengan kata apa. "Kami
Terakhir Diperbarui : 2026-05-04 Baca selengkapnya