Zivanya menahan napas. Tenggorokannya mendadak kering. Ia bisa merasakan tatapan Seruni dan Syabila yang kini ikut tertuju padanya, menuntut penjelasan atas kepanikan yang barusan ia tunjukkan. Sial, ia terlalu impulsif. Lalu saat melihat Abi yang meletakkan satu tangan di dadanya, Zivanya semakin cemas. Ia takut penyakit papinya kambuh. "Nggak ada yang aku sembunyikan, Pi. Tadi itu aku hanya khawatir jadwal Ari terganggu kalau Papi telepon," jawab Zivanya yang berusaha keras menurunkan nada suaranya agar terdengar lebih tenang. Ia kembali duduk dengan punggung yang terasa kaku. “Kalau Papi mau telepon Ari, ya telepon aja, Pi.” Abi menatap sang putri sekilas pandang sebelum mengambil kembali ponselnya, mencari kontak sang menantu, dan mendekatkannya ke telinga. Zivanya melirik jam dinding di ruang tengah yang menunjukkan pukul sembilan malam. Di Indonesia mungkin sudah malam. Tetapi di Swiss, atau di mana pun Ariyan berada di belahan Eropa sana, lebih lambat lima sampai enam
Zuletzt aktualisiert : 2026-05-17 Mehr lesen