Sosok berkacamata itu berjalan mendekat menghampiri Zivanya yang masih mencoba menguasai diri mengendalikan keterkejutannya.“Hai, Ziva, selamat ya atas acara syukurannya. Aku ikut senang deh.”“Makasih. Siapa yang ngundang kamu ke sini, Kak?”Seulas senyum tipis terukir di bibir Aira yang dipulas lipstik berwarna burgundy."Nggak perlu ada yang mengundangku, Ziva. Rumah ini, kan, sudah seperti rumahku sendiri," jawab Aira santai dengan suara mengalun rendah yang menusuk. Ia melangkah lebih dekat hingga hampir tidak berjarak dengan Zivanya lalu melirik perutnya. "Lagian, sebagai sesama perempuan yang sedang mengandung, aku tentu harus menunjukkan dukunganku, kan?" lanjut Aira setengah berbisik, sembari sebelah tangannya mengusap permukaan perutnya sendiri di balik blus longgar yang ia kenakan."Kak Aira, aku nggak tahu apa tujuanmu datang ke sini. Tapi tolong pergi dari sini sebelum–”"Sebelum apa, Ziva? Sebelum Mama mertuamu melihat?" potong Aira cepat lalu tertawa lepas. "Aku ma
Zuletzt aktualisiert : 2026-05-23 Mehr lesen