**Melangkah terburu-buru, hampir setengah berlari dari landasan helipad di rooftop mansion, Antares entah bagaimana sudah tidak bisa menahan diri untuk menemui Vega.Rindu?Mungkin saja. Tapi sepertinya, ini bukan sekadar rindu. Sesuatu yang lebih gelap dari itu.Pria itu memasuki lift menuju lantai tiga di mana kamar Vega berada. Padahal rooftop hanya berada dua lantai di atas lantai tiga. Namun melalui lift itu, Antares nilai lebih dekat dengan pintu kamar sang istri.Ia melemparkan jaket jeans yang semula disampirkan di pundak ke mana saja, tidak peduli. Sampai di depan pintu putih yang tidak berubah dari terakhir ia melihatnya, Antares menarik napas panjang. Jemarinya terangkat untuk mengetuk.Tiga kali ketukan cukup, dibukakan atau tidak, Antares tetap akan menerobos masuk. Jika dikunci dari dalam, ia akan mendobraknya. Bukan masalah besar.Tapi setelah tangan Antares turun, papan tebal di hadapannya itu segera terbuka.Di hadapannya, berdiri seseorang yang paling tidak Antares
Baca selengkapnya