**Meski di luar langit cerah dan matahari bersinar terik, namun di dalam area pemakaman, udara tetap dingin menusuk.Seperti yang Vega ingat pada kedatangan sebelumnya saat pemakaman paman dan bibinya, kabut tipis masih mengambang di antara batu-batu nisan seperti hantu tak kasat mata. Sunyi senyap di sekitar sana. Namun Vega justru senang, sebab ia bisa leluasa berziarah. Tak perlu dipandang aneh oleh orang lain yang datang.Masing-masing satu ikat bunga segar Vega letakkan di pusara paman, bibi, dan yang terakhir, kuburan dengan batu nisan marmer seperti monumen.Arcas Capella terkubur di bawah batu nisan itu.Vega meletakkan ikatan bunganya, lalu mundur. Ia menunduk, memandang dalam-dalam ukiran nama emas di atas batu marmer hitam itu.“Terimakasih ….” ucapnya parau setelah beberapa lama terdiam. “Sudah memberiku kesempatan untuk keluar dari kehidupan yang tidak bisa diharapkan. Jika kau ada di sini, Kakek, aku akan memberimu sebuah pelukan.”Di belakangnya, Antares diam-diam men
Baca selengkapnya