Home / Fantasi / Taring Emas Sang Alpha / 31. Angin Musim Gugur

Share

31. Angin Musim Gugur

Author: Lubna Karkata
last update publish date: 2026-05-14 22:22:40

Purnama itu seolah-olah membeku di atas padang bunga. Perak dan pucat, menggantung seperti janji yang tidak ditepati. Di bawahnya, dua sosok saling memandang dalam keheningan yang menyesakkan. Satu bergetar karena rahasia, yang lain diam karena ketidaktahuan.

“Aku tidak bisa, Solvatar,” bisik Runala. Suara gadis itu gemetar oleh rahasia yang selama ini tersimpan rapat. “Aku ... aku tidak bisa berubah menjadi serigala.”

Solvatar mematung. Sepasang netra emasnya, yang sebermula berpendar penuh ga
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Taring Emas Sang Alpha   32. Napas yang Panas

    Udara pagi itu terasa seperti ribuan jarum es yang menusuk kulit. Kendatipun matahari belum benar-benar menampakkan diri, kegelapan musim gugur yang pekat sudah mulai terkikis oleh hibuk di sekeliling Runala. Bunyi denting zirah yang beradu, ringkikan kuda yang gelisah, dan perintah-perintah pendek yang diserukan dengan suara parau mengisi keheningan.Runala berdiri di dekat Garon, merapatkan jubah merah kusamnya. Begitu kembali dari sesi berkuda di padang bunga bersama Solvatar, gadis itu sempat mampir ke rumahnya untuk mengambil beberapa helai baju yang tersisa ke dalam buntalan kecil. Sebuah pengingat bahwa dia tidak tahu kapan bisa kembali ke sini lagi.Solvatar berdiri beberapa langkah dari sana, tampak seperti bayangan raksasa di tengah keremangan. Lelaki itu baru saja selesai berbicara dengan beberapa prajurit sebelum datang menghampiri Runala dan Garon.“Terima kasih atas dokarnya, Kakek Garon,” ucap Solvatar dengan suara berat dan rendah. Dia menatap Garon dengan rasa hormat

  • Taring Emas Sang Alpha   31. Angin Musim Gugur

    Purnama itu seolah-olah membeku di atas padang bunga. Perak dan pucat, menggantung seperti janji yang tidak ditepati. Di bawahnya, dua sosok saling memandang dalam keheningan yang menyesakkan. Satu bergetar karena rahasia, yang lain diam karena ketidaktahuan.“Aku tidak bisa, Solvatar,” bisik Runala. Suara gadis itu gemetar oleh rahasia yang selama ini tersimpan rapat. “Aku ... aku tidak bisa berubah menjadi serigala.”Solvatar mematung. Sepasang netra emasnya, yang sebermula berpendar penuh gairah untuk berlari bersama di bawah purnama, kini meredup. Dia melangkah maju, memangkas jarak dan berlutut dengan satu lutut menempel pada tanah di samping Runala. “Apa kau bilang?” Suara Solvatar rendah, menggetarkan tanah yang mereka pijak.Mata Runala mulai berkaca-kaca. Teringat bagaimana hinaan yang dia terima di masa kecil. “Tidak ada serigala di dalam diriku. Aku—”Tanpa dinyana, tangan Solvatar menyelinap ke balik kain rok Runala. Tanpa ragu, dia mencengkeram paha luar gadis itu. Tepat

  • Taring Emas Sang Alpha   30. Setiap Ayunan Langkah

    “Ikut aku,” ucap Solvatar pelan. Nadanya bukan lagi perintah seorang Alpha, melainkan sebuah ajakan yang dalam.Runala menoleh ke arah ranjang Nacthmar dengan binar ragu. Lelaki itu tampak telah terlelap dalam tidur yang paling tenang sejak luka-lukanya didapat. “Tapi bagaimana dengan Nacthmar? Dia bisa saja terbangun dan butuh air, atau—”“Ada prajurit yang berjaga di ambang pintu, dan Kakek Garon, akan mengawasinya di sini," potong Solvatar. Suaranya mantap, bagaikan hantaman godam yang meruntuhkan benteng kecemasan Runala. “Kau sudah memberikan segalanya lebih dari seminggu ini. Sekarang, berikan waktu untuk dirimu sendiri.”Runala menarik napas panjang, menatap tangannya yang masih sedikit gemetar karena kelelahan, lalu mengangguk kecil.Di luar, Ashvor sudah menunggu. Solvatar mendekat, tangan besarnya yang hangat melingkar di pinggang Runala untuk membantunya naik. Sentuhan itu terasa kontras. Kekuatan Solvatar menyentuh tubuh Runala yang terasa begitu rapuh di bawah jemarinya.

  • Taring Emas Sang Alpha   29. Sosok Tinggi yang Bersandar

    “Apa kau bisa menggantikanku menjaga Nachtmar sebentar?” tanya Runala pada Solvatar. Suaranya lembut lamun mengandung sisa kelelahan. “Aku mau kembali ke rumahku untuk mengambil beberapa pasokan medis yang tertinggal.”Solvatar tidak langsung menjawab. Tatapannya memindai sekeliling lumbung sebelum mendarat pada Runala. “Biar prajurit saja yang menjaganya. Aku akan menemanimu.”Runala sempat ingin memprotes, tetapi kilat protektif di mata Solvatar menghalau niatnya. Gadis itu hanya mengangguk kecil lantas menyelesaikan lipatan selimut terakhirnya dengan rapi dan meletakkannya ke atas tumpukan jerami. Dia kemudian beralih ke deretan botol kacanya, memastikan setiap sumbat kayu terpasang kencang sebelum memasukkannya ke dalam tas kecil yang selalu dibawa. Sementara Solvatar segera memberikan instruksi singkat pada komandan dan seorang prajurit yang datang bersiaga di sisi Nachtmar. “Jangan biarkan siapa pun masuk. Bahkan jika mereka mengaku membawa kabar dari raja sekalipun,” ucap Solv

  • Taring Emas Sang Alpha   28. Aman dan Terkendali

    Bayang-bayang senja musim gugur melahap cahaya matahari lebih cepat dari biasanya. Di sudut yang agak jauh dari tumpukan jerami tempat Nachtmar terlelap, suasana hening hanya diisi oleh deru napas berat dan gesekan kain.Nachtmar baru saja melewati fase kritisnya. Bunga Wolfs-Bane yang ditempelkan Solvatar tadi pagi telah diambil kembali. Kelopak-kelopak ungu itu kini berubah hitam dan layu setelah menyerap racun sihir gelap yang menggerogoti tubuh Nachtmar. Kini giliran luka sang Alpha yang harus diobati.Solvatar duduk di atas peti kayu tua, tubuhnya sedikit membungkuk. Jubahnya tersampir longgar di pinggang, membiarkan punggung dan dada bidangnya terekspos dalam keremangan. Runala berdiri di belakang lelaki itu. Jemarinya yang ramping mulai membongkar lilitan perban di bahu Solvatar.Kala lapisan kain terakhir terlepas, bekas gigitan Nachtmar dalam wujud serigala terlihat masih mengerikan. Lubang-lubang taring itu memerah, meski tidak lagi mengeluarkan darah segar. “Tahan sedikit

  • Taring Emas Sang Alpha   27. Mangkuk Berisi Bubur

    “Apa kau gila?”Suara Solvatar meledak, serak dan penuh peringatan, memantul di antara pilar-pilar kayu lumbung yang tua. Sebelum jemari Runala sempat mengguyurkan air rendaman bunga Wolfs-Bane ke luka di bahu dan lengan Nachtmar yang menghitam, tangan Solvatar bergerak cepat menangkap pergelangan tangan Runala, mencengkeramnya dengan tekanan yang menuntut kepatuhan.Runala tidak mendongak. Dia tetap berlutut di samping Nachtmar yang terbaring kaku di atas tumpukan jerami dan alas kain bersih. Tempat yang sama di mana Solvatar semalam dirawat tatkala terluka parah. Aroma lumbung hari itu terasa sesak; campuran antara tanah lembap, debu gandum, dan bau karat yang keluar dari luka-luka Nachtmar.Solvatar menatap nanar pada mangkuk di tangan Runala. Ingatannya masih segar tentang rasa perih luar biasa di kedua kakinya. Dia sempat mengira gadis itu kebal terhadap tanaman berbahaya itu. Namun, luka di paha Runala menunjukkan efek serupa; muncul ruam seperti melepuh. “Ini racun, Runala! Ka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status