Langkah kaki Solvatar bergema berat di sepanjang lorong batu yang dingin menuju ruang strategi. Di pundaknya, jubah kebesaran berwarna hitam dengan bordir benang emas menjuntai gagah, menyembunyikan pundaknya yang lebar tetapi sebenarnya masih menyimpan sisa nyeri. Begitu pintu kayu itu terbuka, bau besi, dan minyak senjata langsung menyergap indra penciumannya.Di dalam ruangan, sepuluh prajurit elite berdiri tegak dalam formasi sempurna. Mereka mengenakan zirah khas kerajaan. Perpaduan antara kain biru dongker tebal dan pelat besi berwarna perak yang memantulkan cahaya obor. Warna itu adalah simbol kehormatan sekaligus peringatan; biru untuk ketenangan, perak untuk ketajaman.Di ujung meja peta, berdiri komandan tertinggi barak sekaligus tangan kanan Solvatar.“Yang Mulia,” sapa komandan dengan suara berat, membungkuk hormat. Namun, matanya tidak bisa menyembunyikan kekhawatiran tatkala melihat wajah Solvatar yang sedikit pucat. “Anda seharusnya masih berada di ranjang. Luka di bahu
آخر تحديث : 2026-04-28 اقرأ المزيد