Sans terkekeh, dia menganggap saranku sebagai lelucon. Tapi dia tetap mendengarkanku. Sans berdiri, membiarkanku terbebas dari kurungannya. Ketika ia hendak beranjak, aku mencegah. "Kamu... Mau pergi ke mana?" tanyaku. "Aku mau minum obat kuat punyaku," jawabnya, singkat dan terkesan tergesa-gesa.Sekali lagi aku menahan Sans. Aku memaksanya duduk, lalu aku duduk di pangkuannya. Aku sengaja menggerakkan pinggulku pelan. Dan aku merasakan sesuatu yang mengeras di bawah sana."Aku punya... Obat kuat yang bisa bikin tahan berjam-jam," bisikku, tepat di telinganya.Sudut bibir Sans tersungging. Dia meragukan pengakuanku tentang keperawanan.Jari telunjukku menekan bibir Sans, memintanya diam."Mau... Tidak?" godaku."Coba berikan padaku, obat kuat yang kamu maksud," tantang Sans.Tanpa membuang waktu, aku turun dari pangkuan Sans. Aku berjalan menuju tasku yang berada di dalam nakas. S
Read more