Marco tidak membiarkan Gia protes; ciumannya semakin membara, menekan bibir Gia hingga wanita itu terdesak ke arah pasir yang masih menyimpan sisa kehangatan siang.Jemari Marco yang kasar bergerak dengan ketangkasan seorang predator, membuka satu per satu kancing kemeja putih yang kebesaran di tubuh Gia, membiarkan kain tipis itu tersingkap dan memperlihatkan kulit porselen Gia di bawah cahaya rembulan.Gia ingin memaki, ingin mendorong dada bidang itu, namun pengkhianatan tubuhnya kembali terjadi. Dia hanya bisa menerima serangan Marco karena sadar tidak ada celah untuk mengelak, apalagi menolak.Marco tidak akan pernah memberinya izin untuk mundur satu langkah pun malam ini. Alih-alih melawan, Gia justru membalas lumatan itu, lidah mereka saling melilit dengan rakus, menciptakan pertukaran napas yang membuat gairah Marco semakin membuncah tak terkendali.“Kau selalu tahu cara membuatku kehilangan akal, Gia,” bisik Marco parau di sela ciuman
Last Updated : 2026-05-13 Read more