Napas Marco yang terasa panas menyapu permukaan kulit leher Gia, mengirimkan sensasi gatal sekaligus desiran aneh yang melumpuhkan seluruh saraf penolakannya.Sentuhan tangan kekar pria itu merayap naik, mencengkeram pinggang Gia dengan tekanan yang tegas, memaksanya untuk semakin merapat pada dada bidang yang beraroma maskulin dan mesiu tersebut.Gia mencoba memalingkan wajah, namun jemari Marco yang kasar telah lebih dulu mengunci rahangnya, memaksa kedua netra mereka untuk saling berhadapan di tengah remangnya kamar tidur utama.“Lepaskan aku, Marco ...,” bisik Gia dengan suara parau bahkan nyaris tenggelam oleh deru napasnya sendiri yang kian memburu.“Kau tahu aku tidak akan pernah melakukannya, Gia,” sahut Marco dengan suara bariton rendah yang bergetar tepat di depan bibir Gia.Tanpa memberikan kesempatan bagi wanita itu untuk membalas, Marco menundukkan kepalanya, melumat bibir Gia dalam sebuah ciuman membara yang menuntut kepatuhan mutlak.Ciuman itu tidak memiliki kelembutan
ปรับปรุงล่าสุด : 2026-05-24 อ่านเพิ่มเติม