“Dedi, Saya mau pinjam tubuh kamu sebentar. Saya mau ngobrol sama yang enggak kelihatan di rumah ini. Boleh?” tanya Ustadz Agum lembut. Dedi yang walau awalnya tampak bingung dan ragu, akhirnya mengangguk setuju. “Boleh, Tadz.” Ustadz Agum meminta Dedi untuk berdiri di tengah ruangan dan memejamkan mata. Tak lama, Ustadz Agum pun ikut memejamkan mata. Dengan konsentrasi penuh, ia mengulurkan telapak tangan kanannya ke udara, menggerakkan jemarinya seperti radar yang sedang mencari sinyal gaib. Hanya butuh beberapa detik, gerakan jemarinya mendadak berhenti di satu titik hampa. Seperti telah berhasil mengunci gelombang yang dicari, telapak tangan Ustadz Agum perlahan bergerak menuju dahi Dedi, seolah sedang menggiring sebuah energi asing agar masuk ke dalam tubuh pemuda itu. Fanny, Rian, dan seluruh warga yang hadir di sana menyaksikan proses itu dengan napas tertahan. Suasana dapur mendadak mencekam dan heni
Baca selengkapnya