"Urang sedih, Cih. Anak-anak dan menantu saya malah berselisih masalah harta warisan," ucap Halimah dengan suara datar yang menggema pasrah. Mak Acih terdiam, mendengarkan dengan penuh empati, memahami kesedihan luar biasa yang dirasakan Halimah. "Saya dulu kerja keras banting tulang setelah suami meninggal demi bisa memberi kekayaan untuk kesejahteraan anak-anak saya. Tapi, kekayaan ini malah bikin mereka jadi enggak akur," lanjut sosok itu, tatapannya kini kembali nanar menatap tubuhnya yang terbungkus kafan. "Jenazah saya malah sempat enggak keurus, sementara mereka sibuk ngumpulin surat-surat berharga."Mak Acih menatap sosok itu dengan pandangan teduh. "Relakan saja, Halimah. Kamu tenang saja, jangan pikirkan hal-hal kayak gitu. Serahkan sama Gusti Allah. Semoga anak menantu kamu cepat paham, kalau perselisihan soal harta warisan ini tidak boleh berlarut-larut." Sosok Halimah menatap Mak Acih sejenak, seakan menyerap kalimat penyejuk tersebut. Tak lama, wujud perempuan itu mem
Baca selengkapnya