Tak lama berselang, motor itu berhenti tepat di depan pekarangan rumah Mak Acih. Mak Acih turun, merapikan isi di dalam tasnya, dan menatap Santang. "Nuhun nya, Jang, tos diantar jemput." Santang mengangguk, sedikit menundukkan kepalanya. "Sami-sami, Mak. Saya yang terima kasih banyak Emak sudah mau bantu. Saya pamit dulu." Tanpa menunggu balasan Mak Acih, Santang memutar gas. Anehnya, baru beberapa meter melaju melewati pagar halaman, suara mesinnya hilang seketika. Wujud motor dan tubuh Santang seakan memudar tersapu angin sore, lenyap begitu saja tanpa meninggalkan jejak ban di jalanan tanah. Mak Acih mengerjap-ngerjapkan mata, masih mencerna apa yang sebenarnya baru terjadi. Namun, ia memutuskan untuk tidak memikirkannya dulu. Baru saja ia hendak memutar tubuh menuju pintu, telinganya menangkap suara dengung keramaian dari arah ruang tamu rumahnya. Banyak pasang sandal dan sepatu berserakan di teras. Pintu depan terbuka lebar. Dengan kening berkerut, Mak Acih melangkah masuk
Baca selengkapnya