Suara sirene meraung memekakkan telinga, memecah kesunyian dini hari di ruang komando markas bawah tanah. Lampu darurat berkedip merah darah, memantulkan bayangan tegang di wajah setiap orang yang berkumpul."Mereka mengincar kita secara langsung," suara Jenderal Yudha memecah keheningan, berat namun penuh ketegasan mutlak. Ia menghempaskan tangan ke atas meja taktis yang memuat peta digital Jakarta. "Jika kita meladeni mereka di sini, ribuan warga sipil di pusat kota akan menjadi korban pertumpahan darah ini. Mari kita alihkan mereka jauh-jauh dari kota."Tanpa membuang waktu sedetik pun, roda gigi operasi bergerak. Kendi, Kenzo, Jacky, Dira, dan pasukan elit Jenderal Yudha segera bergerak sigap menuju armada kendaraan taktis. Aroma pelumas mesin, bau mesiu dari magasin yang baru diisi, dan deru berat mesin diesel berpadu di udara. Mereka meninggalkan markas pusat kota, membelah kegelapan malam menuju kawasan pelabuhan di pesisir utara Jakarta—sebuah area industri kosong yang luas,
Leer más