Desir angin gunung yang sedingin es menusuk pori-pori kulit, membawa aroma tajam daun pinus basah dan tanah gembur kaki bukit. Di bawah langit fajar yang masih berselimut kabut kelabu, hamparan rumput liar bergoyang ritmis, memercikkan sisa embun pagi yang membasahi celana taktisku. Di alam terbuka yang sunyi ini, jauh dari bising mesin dan bau mesiu Sektor Utara, raga kami dipaksa berdiri menantang takdir."Dengan ini, tenaga kalian akan dapat mengimbangi, atau bahkan lebih hebat dari para tentara super itu," ujar Abah Usman.Suara sepuh sang guru bergaung berat, berwibawa menembus kabut. Beliau berdiri tegak di atas bongkahan batu besar, jubah putihnya melambai ditiup angin. Tatapan matanya yang sedalam sumur tua mengunci ragaku dan Kenzo yang berdiri berdampingan tanpa atasan, membiarkan dada kami diterpa hawa dingin yang menggigit.Kenzo mengepalkan tinjunya erat-erat hingga urat-urat di lengan kekarnya mencuat tebal. Di dalam hatinya yang paling dalam, bayangan wajah kosong Ja
Read more