Lantai markas bawah tanah berguncang hebat, debu beton yang memutih beterbangan seperti salju kematian. Di balik layar monitor yang masih menyala redup, sosok itu berdiri—tegap, dengan luka parut melintang di wajahnya yang kini tampak lebih pucat dan mengerikan. Bramantyo Waluyo. Dia tidak mati di Sektor Utara.Satu bulan lalu, saat reaktor meledak dan menjatuhkan dermaga ke dalam pelukan air laut yang hitam pekat, aku sempat mengira itu adalah akhir dari obsesinya. Namun, memori itu kembali menampar pikiranku dengan dingin.Tubuh Bramantyo menghantam permukaan air dengan kekuatan yang meremukkan tulang. Di bawah sana, kegelapan absolut menyambutnya. Paru-parunya dipenuhi air asin yang pahit, jantungnya berdenyut lemah, hampir berhenti. Namun, serum Asmodeus yang mengalir di nadinya adalah kutukan sekaligus anugerah. Sel-selnya menolak untuk mati, mereka berjuang keras meregenerasi jaringan yang koyak oleh ledakan.Sebuah cahaya terang muncul dari kedalaman—baling-baling helikopte
Read more