Ruangan itu adalah definisi kemewahan yang mencekik. Dindingnya dilapisi sutra berwarna krem, lampu kristal meredupkan suasana dengan pendar keemasan, dan aroma kayu cendana bercampur dengan parfum maskulin Bramantyo yang menyengat memenuhi udara.Namun bagi Mery Bramantyo, kamar ini adalah neraka.Pergelangan tangannya diikat kencang dengan tali sutra ke tiang dipan kayu jati yang kokoh. Gaun sutra tipis yang dikenakannya sudah nyaris robek, memperlihatkan kulit porselennya yang kini dipenuhi memar kemerahan akibat cengkeraman kasar.Bramantyo berdiri di tepi tempat tidur, bayangannya memanjang di lantai marmer, terlihat seperti raksasa yang sedang memburu mangsanya. Matanya yang tajam dan dingin berkilat oleh api cemburu yang sudah mencapai titik didih."Kau terlihat sangat cantik saat ketakutan, Mery," bisik Bramantyo. Suaranya rendah, serak, dan penuh dengan hasrat yang bengis.Ia mendekat, tangannya yang dingin menyapu rahang Mery dengan paksa, memaksanya menatap mata yang penuh
Read more