Satu bulan telah berlalu sejak benteng Sektor Utara runtuh ditelan laut, menyisakan duka yang membeku di sudut-sudut memori. Kehidupan di Hotel Grand Mahakam kembali berdenyut, namun dengan ritme yang jauh berbeda. Aroma kopi latte di lobby kini terasa lebih tajam, bercampur dengan wangi semir sepatu dan parfum mewah para tamu, menciptakan harmoni yang kontras dengan sisa trauma di benak kami.Aku melangkah melewati lorong lantai eksekutif dengan kemeja supervisor yang terpasang rapi.Tekstur kain katun yang kaku di bahuku terasa seperti zirah, pengingat bahwa meskipun perang besar telah usai, kewaspadaan adalah napas baru.Di ruang direksi, Siska Pratiwi tampak anggun namun dingin di balik meja mahoninya, jemarinya mengetuk layar monitor yang menampilkan grafik okupansi hotel—dan tentu saja, deteksi dini ancaman siber.Sementara itu, Kenzo berdiri di balik jendela besar yang menghadap jalan raya, posturnya yang kokoh tak pernah santai, matanya memindai setiap kendaraan yang berhenti
Read more