Keesokan harinya, rutinitas Meilin kembali berjalan seperti biasa, seolah tidak ada badai besar yang sedang menunggu di balik hidupnya. Di ruang konseling yang tenang, ia duduk di seberang seorang pasien wanita, menata ekspresinya dengan lembut seperti biasa. Di tangannya, selembar kertas hitam putih—gambar seorang anak kecil yang sedang menatap biola. “Silakan Anda lihat gambar ini,” ucap Meilin pelan, suaranya hangat namun profesional. “Lalu coba ceritakan, apa yang Anda lihat, dan apa yang Anda rasakan dari gambar ini.” Ruangan itu hening beberapa detik. Pasien wanita itu menatap lama. Terlalu lama. Lalu tanpa peringatan, air matanya jatuh begitu saja. Satu titik. Lalu banyak. Seperti bendungan yang akhirnya jebol setelah terlalu lama menahan. Meilin tidak terburu-buru. Ia hanya mengambil tisu, menyerahkannya dengan tenang, lalu membiarkan ruang itu dipenuhi emosi yang tidak perlu dipaksa untuk segera reda. “Tidak apa-apa,” ucapnya lembut. “Anda aman di sini.” Dan seperti itu,
Last Updated : 2026-07-22 Read more