“Ibu bahagia, kan?” Alya menatapku dengan senyum dikulum, kemudian dia berucap lagi sambil menepuk dahi, “Aduh, pertayaanku salah. Sudah tahu kalau ibu tidak keluar kamar. Berapa hari, ya?”Kemudian mulutnya komat-kamit sambil menghitung jarinya, dan berakhir dengan mata terbelalak. “Lima hari setengah!”“Apaan, sih, Alya.”Dalam hati malu juga. Putriku sudah dewasa dan pernah menikah. Pasti tahu benar apa yang dilakukan pengantin baru meskipun sudah berumur seperti aku dan Wira.Selama ini aku seperti disekap di dalam kamar. Tidak boleh keluar dengan alasan apapun. Makanannya pun Wira yang mengambil di luar setelah tukang masak mengetuk pintu. Katanya supaya perhatianku fokus kepadanya seorang.Pagi ini saja, aku bisa bebas setelah Wira harus keluar kota. Katanya ada cabang perusahaan yang membutuhkan kehadirannya. Makanya, aku ambil kesempatan bertemu dengan Alya. Sudah kangen sekali.“Ibu belum jawab pertanyaanku. Ibu bahagia?”Mataku mengerjap. Berkelebat ide untuk menjahili anakku
Zuletzt aktualisiert : 2026-06-05 Mehr lesen