Bohong kalau dia tidak capek. Meskipun berbinar, tetapi sudut matanya turun. Aku hapal, ini pertanda dia kurang tidur.“Maaf, ya. Kamu sudah menunggu lama. Sebenarnya aku kepikiran, tetapi akan mengirim pesan tidak bisa,” ucapnya sambil mulai menjalankan mobil.“Tidak apa-apa, Mas. Lebih baik penerbangan ditunda kalau cuaca tidak mendukung.”“Kamu tidak marah?”“Untuk apa? Bagiku keselamatanmu itu yang utama.” Dia tersenyum.Mobil berhenti menunggu antrian keluar. Tangan terulur meraih tanganku dan mengusapnya pelan. “Makasih, ya, sudah mengerti.”Aku mengangguk dan membalas senyumannya. Mobil pun berjalan keluar dari pelataran parkiran. Memasuki jalan raya mengikuti arus jalanan yang padat.Hati ini sudah lega. Dia yang aku kawatirkan sudah bersama. Sambil melihatnya yang awas ke jalanan, hati ini berdesir karena kerinduan. Rasanya, tidak rela lebih lama berjauhan.Entah, gimana orang di luar sana mampu berpisah lama dengan pasangannya? Pastinya atas dasar cinta. Kebutuhan keluarga t
Leer más