Kabar tentang keberhasilan keluarga kami kini terdengar sampai ke kota. Banyak kerabat jauh yang datang berkunjung, memuji keberuntungan kami, dan menyarankan agar kami mengubah gaya hidup agar selaras dengan rezeki yang kini melimpah.“Mas Arka, kenapa rumahnya belum diganti saja?” tanya salah satu kerabat dengan nada heran saat berkunjung siang itu. “Dindingnya masih kayu, atapnya masih rumbia, perabotnya pun sudah tua semua. Kalau saya jadi kamu, pasti sudah bangun rumah bertingkat, beli mobil baru, ganti semua perabotan dengan yang ukir mewah. Kan sayang kalau sudah punya uang banyak tapi masih hidup seperti orang kekurangan!”Arka hanya tersenyum sopan mendengarnya, namun setelah kerabat itu pulang, wajahnya tampak ragu. Ia menatap sekeliling rumah kami yang sederhana: lantai semen yang tidak rata, jendela kayu yang kadang berdecit diterpa angin, kursi rotan yang sudah mulai patah di beberapa bagian.“Mungkin benar juga ya Ayah, Ibu,” ucapnya pelan saat kami duduk di teras nanti
Baca selengkapnya