Musim kemarau tahun itu terasa lebih panjang dan panas dari biasanya. Tanah di kebun mulai retak-retak, sungai kecil di ujung desa menyusut dangkal, dan sumur-sumur warga mulai berkurang airnya. Setiap tetes air menjadi sangat berharga, setiap ikan pangan harus dihemat sebaik-baiknya.Suatu sore yang berdebu dan panas, kami sedang membersihkan halaman rumah. Dari kejauhan terlihat seorang lelaki asing berpakaian lusuh, wajahnya penuh debu, berjalan tertatih-tatih menuju rumah kami. Ia tampak sangat kelelahan, bibirnya pecah-pecah karena haus, dan matanya sayu menahan lapar. Saat sampai di depan pintu, ia berdiri ragu-ragu, menunduk dalam dengan suara lirih.“Mohon maaf mengganggu… bolehkah saya meminta segelas air minum? Saya sudah berjalan jauh dari kota ke desa, dan belum makan sejak pagi tadi. Saya tidak membawa uang sama sekali. Nanti kalau sudah sampai dan mendapat pekerjaan, saya pasti akan kembali dan membayarnya dua kali lipat.”Arka yang mendengar itu diam sejenak, lalu menat
Baca selengkapnya