"Kalena, no ... no, Sayang. Kakak cantiknya lagi sakit. Itu lihat badannya merah-merah kan. Lo habis pijit ya?" ujar Kania sembari melangkah mendekat, langsung menarik lembut bahu anaknya agar tidak terlalu menempeli Camelia. Kania kemudian beralih menatap Camelia dengan binar antusias yang besar."Hehehe, iya kak. Tadi siang di SPA," sengaja Camelia agak kencangkan ucapan kata 'SPA' di akhir."Ya ampun, Ca! Gue beneran nggak nyangka bakal ketemu lo di Bali, di rumah ini pula! Dunia sempit banget, ya?"Camelia mengulas senyum manisnya, mengusap pelan kepala Kalena yang cemberut karena tarikan ibunya. "Iya, Kak. Aku juga nggak nyangka banget. Kakak apa kabar? Maaf ya kalau tadi ada salah paham, aku di bawah bimbingan Pak Kenan untuk skripsi kemarin.""Aduh, nggak usah panggil 'Pak' kalau di luar kampus, kaku banget! Kabar gue baik banget, Ca," Kania langsung berada di samping Camelia, merangkul lengan gadis itu dengan akrab, mengabaikan tatapan mamanya yang masih melotot kaku. "Eh,
Read more