Fajar menyingsing di distrik utara, menyelinap di antara celah tirai ruang medis dan memantulkan cahaya redup pada dinding beton akademi. Aeri tidak memejamkan mata sedetik pun sepanjang malam. Berdiri tegak di samping pintu dengan tangan bersedekap, pandangannya terus terkunci pada Eryx yang tampak tertidur pulas. Namun, udara di dalam ruangan itu terasa berbeda; ada ketegangan tak kasat mata yang membuat setiap tarikan napas Aeri terasa berat. Tepat pukul lima pagi, tanpa suara lembu atau erangan sakit, Eryx membuka kedua matanya. Sepasang manik gelap itu langsung jernih, seolah dia memang sudah terjaga sejak lama. Dia mendudukkan diri di tepi ranjang dengan gerakan yang jauh lebih stabil daripada kemarin, seolah luka tusukan di perutnya hanyalah goresan kecil yang tidak berarti. "Siapkan mobilnya, Kak Gahensa," perintah Eryx datar, tanpa menoleh pada Aeri. Suaranya terdengar dingin, profesional, dan sepenuhnya melepaskan persona manja yang biasa ia gunakan sebagai tameng. "
Baca selengkapnya