LOGINFajar menyingsing di distrik utara, menyelinap di antara celah tirai ruang medis dan memantulkan cahaya redup pada dinding beton akademi. Aeri tidak memejamkan mata sedetik pun sepanjang malam. Berdiri tegak di samping pintu dengan tangan bersedekap, pandangannya terus terkunci pada Eryx yang tampak tertidur pulas. Namun, udara di dalam ruangan itu terasa berbeda; ada ketegangan tak kasat mata yang membuat setiap tarikan napas Aeri terasa berat. Tepat pukul lima pagi, tanpa suara lembu atau erangan sakit, Eryx membuka kedua matanya. Sepasang manik gelap itu langsung jernih, seolah dia memang sudah terjaga sejak lama. Dia mendudukkan diri di tepi ranjang dengan gerakan yang jauh lebih stabil daripada kemarin, seolah luka tusukan di perutnya hanyalah goresan kecil yang tidak berarti. "Siapkan mobilnya, Kak Gahensa," perintah Eryx datar, tanpa menoleh pada Aeri. Suaranya terdengar dingin, profesional, dan sepenuhnya melepaskan persona manja yang biasa ia gunakan sebagai tameng. "
"Kau ingin aku menjadi kepala keluarga yang profesional, Kak?" batin Eryx sembari melangkah perlahan menuju pintu keluar, bersiap kembali ke kamar medis untuk menghadapi pengawal wanitanya. "Baiklah. Aku akan memainkan peran itu. Dan mari kita lihat seberapa lama kau bisa mempertahankan topeng maskulinmu di hadapanku setelah aku tahu siapa dirimu yang sebenarnya."Eryx melangkah kembali menyusuri koridor beton akademi yang dingin. Rasa sakit di perutnya akibat jahitan yang tertarik kini terasa seperti alarm yang terus berdenyut, namun kepalanya jauh lebih bising oleh kalkulasi baru. Langkah kakinya sengaja dibuat seringan mungkin saat mendekati pintu kamar rawat isolasi tempat Aeri menunggunya.Di dalam ruangan, Aeri sedang berdiri di dekat jendela yang menghadap ke halaman dalam akademi. Postur tubuhnya tegak, tangannya bersedekap di dada dengan rahang yang mengeras—sebuah gestur defensif yang biasa ditunjukkan oleh seorang prajurit pria. Namun di mata Eryx yang sekarang, semua kepu
Pengawal muda itu menelan ludah dengan susah payah sebelum akhirnya mendudukkan diri di kursi yang berada tepat di hadapan Eryx. Namanya adalah Marco. Di akademi ini, ia dikenal sebagai satu-satunya orang yang paling sering berada di dekat Gahensa, baik saat latihan fisik di lapangan berlumpur maupun saat menghabiskan waktu di barak logistik sekadar untuk membersihkan senjata."T-ada yang bisa saya bantu, Tuan Muda Eryx?" tanya Marco, suaranya sedikit bergetar. Atmosfer di dalam ruang tunggu privat itu terasa sangat menekan, terutama karena ia harus berhadapan langsung dengan pewaris Leander yang baru saja lolos dari maut dengan perban yang masih melilit perutnya.Eryx tidak langsung menjawab. Dia menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa, melipat kaki, dan menatap Marco dengan pandangan selidik yang teramat tajam. Kesan manja dan kekanakan yang biasa ia tunjukkan di depan Aeri lenyap sepenuhnya. Di sini, yang ada hanyalah seorang srigala Leander yang siap menguliti mangsanya demi s
Keheningan yang mencekam menyelimuti ruang kerja Kepala Akademi. Darius, yang sempat tertegun selama beberapa detik, segera menguasai kembali ekspresi wajahnya. Otot-otot rahangnya mengeras, menolak untuk menunjukkan kepanikan di hadapan sang tuan muda yang sedang terluka namun memiliki tatapan sepekat malam. Darius menggelengkan kepalanya dengan tegas, memasang raut wajah bingung yang dibuat-buat. "Saya sama sekali tidak mengerti apa yang Anda maksud, Tuan Muda Eryx. Pertanyaan bahwa Gahensa adalah seorang perempuan... itu sungguh tidak masuk akal. Dia adalah lulusan terbaik dari angkatan berat, melintasi simulator tempur paling brutal di distrik utara, dan memiliki rekam medis prajurit laki-laki yang sah sejak hari pertama menapakkan kaki di sini." Eryx tidak mengedipkan mata sedikit pun mendengar pembelaan itu. Dia justru menegakkan tubuhnya, melangkah perlahan mendekati meja kerja Darius dengan senyuman miring yang terlihat sangat berbahaya. Setiap langkahnya memancarkan aur
Aeri bergerak dengan efisiensi yang luar biasa. Sebagai seseorang yang terlatih untuk menyusup dan meloloskan diri dari situasi paling krusial, dia memanfaatkan jalur evakuasi darurat rumah sakit yang biasanya digunakan untuk limbah medis. Menghindari kerumunan wartawan yang bising di lobi utama, Aeri memapah tubuh tegap Eryx menuruni tangga belakang menuju area parkir bawah tanah. Di sana, sebuah mobil van hitam taktis milik unit pengamanan cadangan terparkir. Tanpa membuang waktu, Aeri mendudukkan Eryx di kursi belakang, mengambil alih kemudi, dan menginjak pedal gas dalam-dalam, membelah jalanan distrik utara yang mulai temaram. Dua puluh menit kemudian, bangunan megah bergaya brutalistik dengan dinding beton tinggi menjulang tampak di hadapan mereka. Akademi Pengawal Elit Leander. Begitu van hitam itu melewati gerbang baja berlapis, atmosfer di sekitar mereka mendadak berubah menjadi sangat disiplin dan protektif. Aeri memarkirkan kendaraan di paviliun medis akademi. Tak
Aeri terpaku selama beberapa saat, mencerna pengakuan jujur yang baru saja keluar dari bibir Eryx. Keheningan yang canggung sempat merayap di antara mereka sebelum akhirnya Aeri teringat pada sosok wanita bergaun satin hitam yang baru saja pergi bersama Tiago."Jika kau merasa asing di dalam keluargamu sendiri, lalu bagaimana dengan wanita tadi?" tanya Aeri, suaranya merendah seiring rasa penasarannya yang kian menuntut jawaban. "Selena Leander. Siapa dia sebenarnya? Mengapa kedatangannya bisa membuat ayahmu langsung tunduk, dan mengapa dia begitu gigih ingin mempertahankan posisimu sebagai calon kepala keluarga?"Eryx mengembuskan napas berat. Mendengar nama itu disebut, sorot mata gelapnya seketika berubah menjadi sangat dingin dan dipenuhi oleh kabut kewaspadaan yang pekat."Selena adalah wanita yang sangat berpengaruh, baik bagi pemerintahan kota maupun bagi lingkaran dalam keluarga Leander," jawab Eryx, rahangnya mengetat samar. "Dia memiliki otak yang terlalu cerdas untuk ukura
Aeri mencari informasi di internet soal Ozias Leander, si koleksi barang antik dari keluarga Leander. "Konyol sekali. Apakah tidak ada hal lain yang dibicarakan sangat serius selain ketampanannya?" batin Aeri. Di keluarga Leander, kalian harus tahu Ozias Leander, yang suka jalan-jalan ke alam
Aeri masih terpaku, membeku di bawah tatapan tajam Ozias yang seolah mampu menguliti seluruh rahasia di dalam jiwanya. Detik demi detik terasa seperti siksaan yang berjalan lambat. Tepat ketika Aeri baru saja akan membuka mulut untuk menyusun kebohongan demi menyelamatkan dirinya, sebuah gebrakan
"Eryx," suara berat Tiago memecah kesunyian. "Apa yang terjadi padamu? Kenapa kamu diam tak bergeming seperti itu sejak tadi?" Eryx tidak bergerak, bahkan tidak berkedip. Melihat itu, Ozias akhirnya berbicara lagi. "Paman, kata suster yang menjaganya tadi, sejak Eryx sadar, kondisinya memang s
Tamparan yang sangat keras diterima Aeri lagi. Pelakunya adalah orang yang sama lagi. "Bagaimana bisa kau membiarkan ini terjadi ketika banyak yang menginginkan kematian Eryx? Apakah kau sengaja? Apakah kau juga musuhnya?" tanya Tiago tajam. Kedua mata Tiago tidak luput dari Aeri yang menun







