MasukMobil van taktis yang dikemudikan Calixto membelah malam distrik utara dengan kecepatan tinggi, menerobos rintik hujan yang kian menderas. Di dalam kabin, keheningan terasa begitu pekat dan mencekam. Calixto sesekali melirik ke arah kursi penumpang, menatap Aeri yang masih tenggelam dalam lamunannya. Wajah gadis itu tampak kuyu di bawah temaram lampu dasbor; matanya kosong menatap keluar jendela, merekam kilatan lampu jalanan yang buram oleh air. "Ri," panggil Calixto pelan, suaranya sarat akan kekhawatiran. "Jangan biarkan ucapan detektif tadi memakan pikiranmu sebelum kita punya bukti konkret." Aeri tidak menjawab. Kalimat detektif itu justru terus berputar di kepalanya bagai kaset rusak. "Mungkin Eryx akan menjadi hambatan terbesar bagimu... karena malah bisa jadi, dia adalah pelakunya." Dada Aeri terasa begitu sesak, seolah dihantam oleh beban tak kasat mata. Sakit sekali. Selama menyamar di lingkungan berdarah dingin ini, dia selalu membentengi hatinya dengan dendam atas kemat
Aeri dan Calixto melangkah membelah lorong temaram sebuah bar tua di pinggiran distrik utara, menuju sebuah meja paling pojok yang tersembunyi di balik pilar kayu. Di sana, seorang pria dengan mantel lusuh dan tatapan mata yang tajam namun tampak malas sedang mengocok segelas wiski. Dia adalah detektif terbaik yang diceritakan Calixto—seorang pria eksentrik dengan reputasi bersih namun memiliki reputasi sebagai "detektif aneh" karena metodenya yang tidak biasa. Aeri akhirnya menemui detektif yang aneh itu. Setelah Calixto meletakkan amplop berisi sisa dokumen militer milik Felix di atas meja, detektif itu tidak langsung membukanya. Dia hanya mengetukkan jemarinya pada permukaan meja, lalu menatap Aeri dengan senyuman miring yang misterius. "Kasus Felix, mantan pengawal utama Leander," detektif itu membuka suara, nadanya santai namun sarat akan penekanan yang berat. "Menurut pengamatanku, meskipun aku belum benar-benar menyelidikinya secara mendalam, kasus ini akan melibatkan banyak
Malam berikutnya, ketika paviliun medis kembali sunyi dan Eryx sedang beristirahat total akibat efek obat penenang, sebuah pergerakan senyap terjadi. Calixto menculik Aeri—atau lebih tepatnya, menarik wanita itu secara paksa namun halus dari posisinya yang sedang berjaga di koridor. Aeri yang mengenali isyarat ketukan sandi di dinding tidak menolak; dia pun ikut dengan Calixto menuju ruang logistik bawah tanah yang terabaikan di sudut akademi. Di ruangan yang remang-remang dan dipenuhi kotak amunisi kosong itu, mereka membicarakan soal bagaimana Aeri mengatasi balas dendamnya. Calixto menatap sahabatnya dengan cemas. Dia tahu badai yang sedang dihadapi Aeri sejak Eryx mulai mencium identitas aslinya. Bagaimanapun, Calixto mendesak Aeri untuk menyewa seorang detektif terbaik di negara itu untuk membantunya memecahkan kasus Felix. "Kau tidak bisa terus mengandalkan instingmu atau janji-janji manis Eryx, Ri. Kau butuh pihak ketiga yang murni bergerak di bawah bayang-bayang hukum sipil
Eryx tidak menanggapi pernyataan itu dengan kata-kata. Ketegangan yang sempat menguar dari tubuhnya yang gemetar perlahan runtuh, digantikan oleh kepasrahan yang mendalam. Dengan gerakan yang teramat pelan namun pasti, pemuda itu mengikis jarak di antara mereka. Sebelum Aeri sempat mengantisipasi pergerakannya, Eryx menarik tubuh Aeri dan memeluknya dari belakang, menyandarkan kepalanya yang terasa berat di bahu tegap sang pengawal. "Tetaplah di sisiku, Kak... kumohon," bisik Eryx, suaranya terdengar sangat parau, melemah hingga akhirnya napasnya kembali teratur dan dia tertidur dalam posisi mendekap erat tubuh Aeri. Aeri membeku di tempatnya. Dia tidak berani bergerak, takut jika sedikit saja pergeseran tubuhnya akan membangunkan insting liar pemuda itu lagi. Pada akhirnya, rasa lelah yang luar biasa setelah berhari-hari berjaga membuat pertahanan Aeri runtuh. Masih dalam kungkungan pelukan erat Eryx di atas ranjang medis, Aeri juga tertidur. Di balik keheningan malam, jantungnya b
Aeri segera melangkah turun dari area atap setelah memberi isyarat pamit yang cepat kepada Calixto. Langkah kakinya bergegas menuruni anak tangga besi, separuh dari dirinya masih dilingkupi rasa cemas jika bayangan yang dilihat Calixto tadi benar-benar sang tuan muda yang nekat berjalan dengan luka terbuka. Namun, sesampainya di koridor paviliun medis, keadaan tampak sunyi. Aeri perlahan mendorong pintu kayu kamar rawat isolasi tempat Eryx dirawat. Ruangan itu remang-remang, hanya diterangi oleh lampu indikator mesin medis dan pendar redup rembulan dari balik jendela. Aeri datang ke kamar Eryx untuk memeriksa apakah Eryx masih tidur. Dia berjalan mendekati ranjang dengan langkah tanpa suara, dan ternyata, pria itu masih terlelap. Deru napas Eryx terdengar teratur, wajah tampannya yang biasa dipenuhi kelicikan kini tampak begitu damai dan bebas dari beban takhta dalam tidurnya. Melihat wajah pucat itu, entah dorongan dari mana, Aeri mengulurkan tangannya yang tanpa sarung tangan. D
Malam kian melarut di distrik utara. Angin malam yang dingin berembus bebas, menyapu dinding-dinding beton kaku milik Akademi Pengawal Elit. Jam malam telah diberlakukan sejak satu jam yang lalu; seluruh koridor barak telah menggelap dan para pengawal muda telah terlelap dalam istirahat total mereka setelah seharian ditempa latihan fisik yang brutal. Aeri berjalan dengan langkah seringan kapas di atas koridor sunyi lantai dua paviliun medis. Dia baru saja memastikan bahwa Eryx telah tertidur karena pengaruh obat bius pasca-operasi kecil pada luka jahitannya. Rasa penat yang luar biasa menghimpit pundaknya, membuat setiap hela napasnya terasa berat di balik seragam tegap yang masih melekat ketat. Saat hendak melintasi persimpangan menuju area tangga darurat, sebuah bayangan tinggi melangkah keluar dari kegelapan fungsional loker logistik. Aeri secara refleks menurunkan tangannya ke arah sarung senjata di pinggangnya, namun gerakan itu terhenti seketika begitu mengenali garis wajah pr
"Bukankah kau terlalu ikut campur urusan ini?" tanya Tiago seraya menatap tajam ke Aeri. "Sial. Aku tidak boleh gegabah. Mana ada pengawal yang akan mengatakan kalimat seperti itu kepada kepala keluarga kecuali dia berniat ingin terlihat mencurigakan. Jelas terlalu ikut campur," batin Aeri. Namun
Aeri semakin kesal dengan segala omong kosong ini. Tetapi demi mencapai tujuannya, mau tidak mau dia harus melayani hal-hal tidak penting ini. "Benar tuan. Saya lebih tua dari tuan. Saya berusia hampir 27 tahun sementara tuan 25 tahun," kata Aeri. Aeri pernah melihat informasi di internet bahw
Rapat berlanjut.Eryx menyetujui beberapa hal. Menolak yang lain. Membuat keputusan besar berdasarkan kriteria yang Aeri tidak sepenuhnya pahami—apakah ia tertarik, apakah ia bosan, apakah ia sedang merasa beruntung.Di tengah rapat, seorang asisten membawa makanan ringan. Eryx langsung mengambil p
Namun ketegangan itu segera berubah total. Lantai kantor Leander Corporation adalah gambaran efisiensi dan kekuasaan. Setiap orang bergerak dengan tujuan. Setiap interaksi terukur. Setiap detail direncanakan. Lalu Eryx masuk, dan semuanya berubah menjadi kacau. “Halo, semuanya,” katanya denga







