INICIAR SESIÓNPintu lift belum sepenuhnya terbuka ketika kata-kata itu terlepas dari bibirnya.
“Sepertinya aku harus bertanya langsung kepada Ayah,” gumam Dirga pelan. Tatapannya kosong, terpantul samar di dinding logam lift. “Apa yang sebenarnya terjadi pada masa lalu Nona Adeline…?” Begitu pintu terbuka, ia melangkah keluar tanpa ragu. Langkahnya cepat menyusuri lorong, seolah pikirannya sudah lebih dulu tiba di tujuan, sementara wajahnya kembali tenang, menyembunyikan kegelisahan yang sempat muncul. Sesampainya di ruangan, ia langsung menuju meja kerja. Laptopnya sudah menyala, menampilkan sistem rumah sakit yang terintegrasi dengan seluruh berkas pasien. Ia menggerakkan kursor, membuka data anak korban kecelakaan itu, dan deretan informasi pun muncul di layar. Ia menelusurinya dengan saksama; matanya bergerak cepat membaca setiap detail. Ia berhenti sejenak, lalu meraih gagang telepon dan menekan satu tombol dengan pasti. “Halo, selamat sore,” terdengar suara dari seberang. “Apakah ada yang bisa saya bantu?” “Selamat siang, saya Dokter Dirga,” jawabnya singkat. Belum sempat ia melanjutkan, suara di seberang berubah gugup. “Dok… Dokter Dirga?” ucap petugas itu terbata. “Maafkan saya, Dok. Saya kira yang menelepon adalah wali pasien.” Terdengar samar bisik-bisik panik dari beberapa orang di latar belakang. Dirga tersenyum tipis; bahunya sedikit mengendur. “Tenang saja, tidak perlu gugup seperti itu,” ujarnya ringan, lalu menatap layar laptop di hadapannya sebelum melanjutkan dengan nada lebih tegas, “Saya ingin biaya untuk anak korban kecelakaan yang saat ini berada di ICU dianggap lunas. Seluruh biayanya akan ditanggung oleh rumah sakit.” “Baik, Dokter Dirga,” jawab petugas itu cepat. “Saya akan segera memberitahu wali pasien bahwa biaya rumah sakit telah dianggap lunas.” “Tidak perlu,” potong Dirga, bersandar sedikit di kursinya dengan pandangan tetap tertuju pada layar. “Biar saya sendiri yang menyampaikannya.” “Ba… baik, Dok.” Dirga menutup sambungan telepon perlahan. Ruangan kembali sunyi, sementara cahaya layar masih menyinari wajahnya, memantulkan sorot mata yang kini tak lagi sekadar fokus pada data. Kelopak mata itu bergerak pelan, seolah berat untuk dibuka. Di waktu yang sama, di ruang ICU, kesadaran perlahan kembali. Anak korban kecelakaan itu akhirnya sadar. Tubuhnya masih lemah, terbaring di antara selang dan alat medis yang terus berbunyi pelan. Di samping ranjang, ibunya duduk membungkuk, menggenggam tangannya erat. “Arya…? Sayang… ini Ibu,” bisiknya; suaranya gemetar menahan haru. Arya menoleh perlahan. Napasnya masih tertahan di balik masker oksigen. Matanya berusaha fokus sebelum akhirnya mengenali wajah di hadapannya. “I… Ibu… maafkan Arya… sudah membuat Ibu khawatir,” ucapnya lirih. Sang ibu tersenyum, meski air mata masih menggenang. Jemarinya mengusap tangan kecil itu dengan lembut. “Tidak apa-apa, Arya. Ibu senang kamu sudah baik-baik saja.” Arya mengangguk pelan. Pandangannya bergeser, menelusuri ruangan seolah mencari sesuatu yang hilang. Alis sang ibu berkerut. Ia mengikuti arah tatapan anaknya, tetapi tak menemukan apa pun. “Kenapa, Arya?” tanyanya pelan. “Apa kamu mencari sesuatu?” “Ka… kakak bergaun hitam… ke mana, Bu?” tanya Arya, suaranya hampir tak terdengar. Sang ibu terdiam sejenak. Tatapannya berubah bingung, lalu kembali menatap anaknya. “Ibu tidak melihat siapa pun seperti itu, Arya,” jawabnya hati-hati. “Yang Ibu lihat hanya dokter yang merawatmu.” Arya terdiam, lalu mengangguk kecil. Matanya kembali tenang, meski masih menyimpan sesuatu yang tak terucap. “Ya sudah, Bu,” bisiknya, “Arya cuma ingin berterima kasih… kepada kakak bergaun hitam itu.” Sang ibu tersenyum tipis, meski kebingungan masih tersisa di wajahnya. Ia mengangguk pelan. “Baiklah, Nak. Kalau nanti Ibu bertemu dengannya, Ibu akan menyampaikan terima kasih darimu.” Arya tersenyum samar di balik masker. Matanya mulai kembali berat. “Iya, Bu…” “Istirahatlah lagi,” ujar sang ibu, merapikan selimutnya dengan hati-hati. “Ibu akan pergi sebentar.” Arya hanya mengangguk sebelum memejamkan mata. Sang ibu berdiri perlahan dari kursinya. Tangannya masih sempat menyentuh kepala Arya, memastikan anaknya benar-benar tertidur. Namun sebelum ia sempat melangkah menjauh, pintu ruang ICU tiba-tiba terbuka. Dua sosok segera memasuki ruangan, yakni Dirga dan dokter yang sebelumnya menangani Arya. Tatapan Dirga berhenti tepat pada sosok wanita di samping ranjang. “Apakah Anda adalah Ibu Nirmala Sari, wali dari anak ini?” tanyanya ramah. Sang ibu mengangguk cepat. Tubuhnya masih sedikit tegang; tangannya saling menggenggam di depan dada. “Benar, Dok. Apakah ada sesuatu yang ingin disampaikan?” Dirga melangkah mendekat, menjaga nada suaranya tetap tenang. Ia sempat melirik ke arah Arya yang terbaring, lalu kembali menatap ibunya. “Baiklah, saya akan langsung menyampaikan maksud kedatangan saya. Seluruh biaya pengobatan dan perawatan anak Ibu akan ditanggung sepenuhnya oleh rumah sakit.” Ia memberi jeda singkat sebelum melanjutkan, “Selain itu, kami juga akan memberikan beasiswa pendidikan kepada anak Ibu hingga ia menyelesaikan perguruan tinggi, di mana pun yang ia inginkan.” Sang ibu terdiam. Matanya membesar, napasnya tertahan, seolah tidak yakin dengan apa yang baru saja ia dengar. “Sebentar, Dok…” ucapnya ragu. “Saya… saya sangat bersyukur mendengarnya, tapi… bolehkah saya tahu alasannya?” Dirga tersenyum tipis. Tatapannya tetap tenang, tanpa sedikit pun berubah. “Tidak ada alasan atau maksud tertentu,” jawabnya ringan. “Yang jelas, apa yang saya sampaikan bukanlah kebohongan.” Tangan sang ibu refleks menutup mulutnya. Air matanya langsung jatuh tanpa tertahan. Ia berlutut begitu saja di hadapan Dirga. “Do… Dokter… terima kasih banyak…” ucapnya terbata. “Saya tidak tahu harus membalasnya dengan cara apa…” Dirga segera meraih bahunya, mengangkatnya dengan lembut namun tegas. “Tidak perlu seperti ini, Ibu Nirmala,” katanya. “Ibu tidak perlu membalas apa pun. Cukup rawat anak Ibu dengan baik.” Wanita itu berdiri kembali, meski air matanya masih mengalir. Ia berusaha menghapusnya dengan cepat. “Sekali lagi… terima kasih banyak, Dok,” ucapnya lirih. Dirga mengangguk singkat, lalu mengeluarkan ponsel dari sakunya. “Baiklah. Sebelum saya pergi, apakah ada nomor yang bisa saya hubungi?” Ibu Nirmala segera mengeluarkan ponsel lamanya. Jemarinya gemetar saat menyebutkan nomor yang tertera di layar. Dirga mencatatnya dengan cepat, lalu menyimpan kembali ponselnya. “Saya akan menghubungi Ibu kembali nanti. Urusan saya sudah selesai, jadi saya pamit.” Mereka berjabat tangan singkat. Dirga lalu berbalik, diikuti dokter yang merawat Arya. Pintu ICU terbuka, lalu perlahan menutup kembali di belakang mereka, meninggalkan Ibu Nirmala yang masih berdiri terpaku di dalam ruangan. Beberapa menit kemudian, setelah meninggalkan ICU, Dirga kembali ke ruangannya. Ponsel itu sudah berada di tangannya; ibu jarinya hampir menekan layar untuk melakukan panggilan, namun suara ketukan di pintu menghentikan gerakannya. “Masuklah,” ucapnya singkat. Pintu terbuka, memperlihatkan seorang pria yang langsung menundukkan kepala dengan sopan. “Selamat sore, Dokter Dirga,” ujarnya. “Mohon maaf mengganggu, saya ingin membicarakan sesuatu yang penting.” Dirga mengangguk kecil. Ia melangkah menjauh dari meja kerja, menuju area duduk di dekat jendela. “Selamat sore, Pak Adian. Silakan duduk.” Keduanya duduk berhadapan. Suasana ruangan kembali tenang, hanya diisi suara pendingin udara yang berdengung pelan. “Jadi, apa yang ingin Anda diskusikan?” tanya Dirga, menautkan jemarinya di atas lutut. Pak Adian menarik napas sejenak sebelum mulai berbicara. Tatapannya serius, berbeda dari sikap santainya tadi. “Saya menerima masukan sekaligus keluhan dari beberapa dokter spesialis,” ujarnya. “Terutama di bidang bedah toraks, kardiak, dan vaskular.” Ia berhenti sejenak, memastikan Dirga memperhatikan. “Mereka merasa jumlah tenaga saat ini tidak mencukupi. Kasus yang masuk semakin banyak, dan membutuhkan penanganan khusus di bidang tersebut.” Dirga tersenyum tipis, seolah tidak terkejut. “Jadi maksud Anda, ingin membuka rekrutmen dokter spesialis di bidang itu?” “Betul sekali,” jawab Pak Adian cepat. “Terlebih… Dokter Calista tampaknya memiliki banyak kegiatan di luar, sehingga tidak selalu dapat menangani kasus di sini.” Dirga mengangguk pelan. Pandangannya sejenak mengarah ke meja, sebelum kembali pada lawan bicaranya. “Baiklah, saya menyetujui usulan itu,” ujarnya ringan, lalu menambahkan dengan sedikit nada bercanda, “apalagi ini datang dari kepala bagian SDM.” Pak Adian tersenyum kecil; bahunya sedikit mengendur. “Kalau begitu, saya akan menyiapkan berkas-berkas yang perlu ditandatangani,” katanya. “Baik,” balas Dirga. “Jika saya tidak ada di ruangan, hubungi saja nomor pribadi saya.” Pak Adian mengangguk, lalu berdiri. Keduanya berjabat tangan singkat sebelum ia meninggalkan ruangan. Pintu tertutup perlahan. Ruangan kembali hening. Dirga tetap duduk di tempatnya. Beberapa detik ia terdiam, lalu bahunya bergetar pelan sebelum akhirnya ia tertawa. “Siapa yang bisa menahan…” gumamnya; senyum lebar muncul di wajahnya. “Apalagi menyuruh malaikat maut yang menyamar menjadi dokter.” Tawa itu perlahan mereda, tetapi senyum di wajahnya tidak ikut menghilang. Pandangannya kembali jatuh pada layar ponsel yang masih menyala, memperlihatkan nama kontak yang tersimpan di sana 'Nona Calista Adeline.'Aroma anyir darah tercium dari sudut-sudut aula utama yang kini telah berubah menjadi kuburan massal. Puluhan jasad prajurit istana yang melakukan bunuh diri massal terkapar tumpang tindih dengan sisa pasukan perbatasan yang gugur. Dalam waktu kurang dari satu hari, kemegahan Kerajaan Jayantara runtuh total, menyisakan keheningan yang mencekam dan pemandangan yang amat mengerikan.Putri Jayasari perlahan turun dari atas singgasana berdarah, melangkah gontai melewati genangan cairan merah yang membasahi lantai. Ujung gaunnya yang koyak terseret di atas lantai, sementara tangan kanannya masih menggenggam erat pedang yang telah merenggut nyawa ayahandanya. Langkah kakinya terhenti tepat di samping jasad Rangga Tirta yang kini telah terbujur kaku."Tunggu aku, Rangga... Dunia ini tidak lagi memiliki tempat bagi kita," bisik Putri Jayasari dengan suara lirih yang dipenuhi keputusasaan mendalam sembari menatap tubuh Rangga Tirta.Tanpa ragu sedikit pun, ia membalikkan arah hulu pedangnya da
Putri Jayasari bergerak bagaikan hembusan angin malam yang mematikan, menebas leher dua prajurit pengawal yang mencoba mendekatinya hingga darah segar menyembur ke pilar batu. Tidak ada lagi kelembutan seorang putri di dalam dirinya, hanya ada seonggok raga yang digerakkan oleh kepedihan dan dendam mutlak.Tebasan demi tebasan ia layangkan tanpa ampun, merubuhkan setiap prajurit istana yang berani menghadang langkahnya menuju altar singgasana. Di sela-sela dentingan besi dan erangan sekarat korbannya, air mata terus mengalir membasahi pipinya yang tercoreng noda merah. Ia mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, menatap bilah baja itu dengan pandangan yang kosong sekaligus penuh luka."Lihatlah pedangku, Rangga Tirta..." bisik Putri Jayasari dengan suara parau yang menyayat hati di tengah riuhnya pertempuran. "Bukankah sekarang aku sudah mampu menyaingimu di medan perang?!" Air matanya menetes jatuh tepat di atas sabetan darah baru pada mata pedangnya, merefleksikan kepedihan mendalam ata
Surya Brama mengepalkan kedua tangannya hingga bergetar menyaksikan sang jenderal diperlakukan layaknya seorang kriminal rendahan. Amarahnya meluap melampaui batas kesabaran, merobek seluruh rasa hormatnya pada institusi kerajaan. Dengan gerakan tegas, ia melangkah maju dan melepaskan seluruh atribut militernya ke tanah berbatu alun-alun."Aku tidak sudi mengabdi pada kerajaan yang memperlakukan pahlawannya seperti binatang!" seru Surya Brama, tatapannya menembus langsung ke arah sepasang mata Patih Wiranegara. "Ikat aku dan bawa aku bersama Jenderal Rangga Tirta, karena aku tidak akan membiarkan beliau berjalan sendirian!""Sangat heroik, Surya Brama. Ikat pria bodoh ini bersama jenderalnya!" balas Patih Wiranegara sembari melambaikan tangan dengan nada meremehkan.Kedua tangan Surya Brama pun segera diikat erat menggunakan tali tambang tebal oleh para prajurit istana. Bersama Jenderal Rangga Tirta, ia digiring melewati koridor-koridor megah menuju aula utama di bawah kawalan ketat p
Dua hari telah berlalu sejak Jenderal Rangga Tirta ditetapkan sebagai pengkhianat, dan situasi di Kerajaan Jayantara tampak kembali seperti biasa. Namun, keheningan itu mendadak pecah ketika dari kejauhan gerbang kota, kepulan debu tipis membubung ke udara. Tiga puluh lima orang prajurit mengendarai kuda dengan pakaian zirah yang hancur, dipimpin oleh Jenderal Rangga Tirta yang tubuhnya dipenuhi luka serta darah yang mengering.Rangga Tirta berhasil kembali dengan selamat, namun pasukan lainnya banyak yang telah gugur. Tepat ketika hampir sampai di gerbang istana, Jenderal Rangga Tirta turun dari kudanya diikuti oleh pasukan di belakangnya, lalu berjalan menuju pintu gerbang.Tepat ketika kaki mereka hendak menginjak ambang gerbang kota, beberapa tombak besar mendadak disilangkan di depan dada Rangga Tirta. Dua orang prajurit penjaga gerbang berdiri kokoh dengan tatapan dingin, sama sekali tidak menunjukkan rasa hormat kepada sang jenderal. Barisan pasukan di belakang Rangga Tirta sek
Maharaja Jayawardhana masih duduk termenung di singgasananya, menatap kosong ke arah lantai batu. Guratan kesedihan yang mendalam tampak di wajahnya karena prajurit-prajurit terbaik yang dikirimkannya mungkin telah gugur.Kehadiran sang patih yang tiba-tiba membuat sang raja perlahan mengangkat kepalanya dengan raut wajah yang letih."Maharaja Jayawardhana, mohon ampun atas kelancangan hamba yang kembali secepat ini," ucap Patih Wiranegara sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Namun, hamba baru saja menerima sebuah laporan yang sangat mengejutkan mengenai kelakuan Jenderal Rangga Tirta di belakang Anda.""Laporan apa lagi yang kau bawa, Wiranegara?" tanya Maharaja Jayawardhana dengan nada suara berat yang dipenuhi rasa curiga. "Jangan membuatku semakin pusing dengan urusan yang tidak mendasar.""Ini mengenai kehormatan keluarga istana, Maharaja," jawab Patih Wiranegara. Ia sengaja menurunkan intonasi suaranya agar terdengar rahasia dan genting."Hamba mendapatkan bukti bahwa Jend
Putri Jayasari berjalan tergesa-gesa menyusuri lorong istana. Langkahnya begitu cepat hingga prajurit yang baru saja menyampaikan laporan kepadanya harus berlari kecil untuk mengimbangi langkah sang putri. Wajah Jayasari memerah, sementara kedua tangannya mengepal erat, menahan amarah yang terus bergolak di dalam dadanya.Semakin dekat dengan aula utama, napas Putri Jayasari semakin memburu. Di dalam pikirannya saat ini hanyalah keselamatan Rangga Tirta yang kini bertarung di perbatasan tanpa bala bantuan.Pintu aula utama terbuka dengan keras. Putri Jayasari melangkah masuk tanpa memedulikan etiket kerajaan, membuat seluruh perhatian di dalam ruangan langsung tertuju kepadanya. Tatapannya segera mengunci Maharaja Jayawardhana yang duduk di atas singgasana, sementara Patih Wiranegara masih berdiri tidak jauh dari sang raja."Ayahanda, apa maksud dari semua keputusan ini?!" seru Putri Jayasari. Dadanya naik turun menahan emosi, sementara suaranya bergetar karena kemarahan yang sudah ti
Air menetes dari ujung rambutnya saat Adeline melangkah keluar dari bathtub. Uap tipis masih bergelayut di udara, sementara kilau api biru yang semula menyelimuti tubuhnya perlahan memudar. Namun ada satu hal yang berubah. Rambutnya kini memutih, menciptakan kontras yang mencolok dengan kulitnya yan
Wanita bergaun hitam itu kembali ke ruangan tempat ia pertama kali muncul. Ia duduk di depan meja marmer, punggungnya tegak, napasnya tertahan. Tangan kirinya mencengkeram sesuatu yang berdenyut, berusaha ia tahan agar tidak lepas dari kendali. Pakaiannya telah kembali seperti semula. Namun wajahny
“Kakak datang untuk menjemputmu,” ucap wanita bergaun hitam itu lembut; suaranya seolah mengalun di antara ruang yang terasa asing dan sunyi. Anak kecil itu menatapnya dengan ragu. Bahunya sedikit merapat, jemarinya saling menggenggam di depan dada, seperti mencari perlindungan yang tak terlihat. T
“Anak laki-laki, sekitar tiga belas tahun, korban tabrak lari!” teriak sopir ambulans dengan suara panik. “Satu… dua… tiga… angkat!” perintah dokter itu tegas. Tubuh anak itu dipindahkan dengan cepat. Kepalanya terkulai, wajahnya pucat, napasnya nyaris tak terdengar. Dokter membuka kelopak matanya







