Share

Identitas Tersembunyi

Penulis: Tinta_Jojon
last update Tanggal publikasi: 2026-04-22 19:09:42

Pintu lift belum sepenuhnya terbuka ketika kata-kata itu terlepas dari bibirnya.

“Sepertinya aku harus bertanya langsung kepada Ayah,” gumam Dirga pelan. Tatapannya kosong, terpantul samar di dinding logam lift. “Apa yang sebenarnya terjadi pada masa lalu Nona Adeline…?”

Begitu pintu terbuka, ia melangkah keluar tanpa ragu. Langkahnya cepat menyusuri lorong, seolah pikirannya sudah lebih dulu tiba di tujuan, sementara wajahnya kembali tenang, menyembunyikan kegelisahan yang sempat muncul.

Sesampainya di ruangan, ia langsung menuju meja kerja. Laptopnya sudah menyala, menampilkan sistem rumah sakit yang terintegrasi dengan seluruh berkas pasien. Ia menggerakkan kursor, membuka data anak korban kecelakaan itu, dan deretan informasi pun muncul di layar. Ia menelusurinya dengan saksama; matanya bergerak cepat membaca setiap detail.

Ia berhenti sejenak, lalu meraih gagang telepon dan menekan satu tombol dengan pasti.

“Halo, selamat sore,” terdengar suara dari seberang. “Apakah ada yang bisa saya bantu?”

“Selamat siang, saya Dokter Dirga,” jawabnya singkat.

Belum sempat ia melanjutkan, suara di seberang berubah gugup. “Dok… Dokter Dirga?” ucap petugas itu terbata. “Maafkan saya, Dok. Saya kira yang menelepon adalah wali pasien.”

Terdengar samar bisik-bisik panik dari beberapa orang di latar belakang.

Dirga tersenyum tipis; bahunya sedikit mengendur. “Tenang saja, tidak perlu gugup seperti itu,” ujarnya ringan, lalu menatap layar laptop di hadapannya sebelum melanjutkan dengan nada lebih tegas, “Saya ingin biaya untuk anak korban kecelakaan yang saat ini berada di ICU dianggap lunas. Seluruh biayanya akan ditanggung oleh rumah sakit.”

“Baik, Dokter Dirga,” jawab petugas itu cepat. “Saya akan segera memberitahu wali pasien bahwa biaya rumah sakit telah dianggap lunas.”

“Tidak perlu,” potong Dirga, bersandar sedikit di kursinya dengan pandangan tetap tertuju pada layar. “Biar saya sendiri yang menyampaikannya.”

“Ba… baik, Dok.”

Dirga menutup sambungan telepon perlahan. Ruangan kembali sunyi, sementara cahaya layar masih menyinari wajahnya, memantulkan sorot mata yang kini tak lagi sekadar fokus pada data.

Kelopak mata itu bergerak pelan, seolah berat untuk dibuka.

Di waktu yang sama, di ruang ICU, kesadaran perlahan kembali. Anak korban kecelakaan itu akhirnya sadar. Tubuhnya masih lemah, terbaring di antara selang dan alat medis yang terus berbunyi pelan. Di samping ranjang, ibunya duduk membungkuk, menggenggam tangannya erat.

“Raka…? Sayang… ini Ibu,” bisiknya; suaranya gemetar menahan haru.

Raka menoleh perlahan. Napasnya masih tertahan di balik masker oksigen. Matanya berusaha fokus sebelum akhirnya mengenali wajah di hadapannya. “I… Ibu… maafkan Raka… sudah membuat Ibu khawatir,” ucapnya lirih.

Sang ibu tersenyum, meski air mata masih menggenang. Jemarinya mengusap tangan kecil itu dengan lembut. “Tidak apa-apa, Raka. Ibu senang kamu sudah baik-baik saja.”

Raka mengangguk pelan. Pandangannya bergeser, menelusuri ruangan seolah mencari sesuatu yang hilang.

Alis sang ibu berkerut. Ia mengikuti arah tatapan anaknya, tetapi tak menemukan apa pun. “Kenapa, Raka?” tanyanya pelan. “Apa kamu mencari sesuatu?”

“Ka… kakak bergaun hitam… ke mana, Bu?” tanya Raka, suaranya hampir tak terdengar.

Sang ibu terdiam sejenak. Tatapannya berubah bingung, lalu kembali menatap anaknya. “Ibu tidak melihat siapa pun seperti itu, Raka,” jawabnya hati-hati. “Yang Ibu lihat hanya dokter yang merawatmu.”

Raka terdiam, lalu mengangguk kecil. Matanya kembali tenang, meski masih menyimpan sesuatu yang tak terucap. “Ya sudah, Bu,” bisiknya, “Raka cuma ingin berterima kasih… kepada kakak bergaun hitam itu.”

Sang ibu tersenyum tipis, meski kebingungan masih tersisa di wajahnya. Ia mengangguk pelan. “Baiklah, Nak. Kalau nanti Ibu bertemu dengannya, Ibu akan menyampaikan terima kasih darimu.”

Raka tersenyum samar di balik masker. Matanya mulai kembali berat. “Iya, Bu…”

“Istirahatlah lagi,” ujar sang ibu, merapikan selimutnya dengan hati-hati. “Ibu akan pergi sebentar.”

Raka hanya mengangguk sebelum memejamkan mata.

Sang ibu berdiri perlahan dari kursinya. Tangannya masih sempat menyentuh kepala Raka, memastikan anaknya benar-benar tertidur.

Namun sebelum ia sempat melangkah menjauh—pintu ICU terbuka.

Dua sosok memasuki ruangan— Dirga dan dokter yang menangani Raka.

Tatapan Dirga berhenti tepat pada sosok wanita di samping ranjang.

“Apakah Anda adalah Ibu Nirmala Sari, wali dari anak ini?” tanyanya ramah.

Sang ibu mengangguk cepat. Tubuhnya masih sedikit tegang; tangannya saling menggenggam di depan dada. “Benar, Dok. Apakah ada sesuatu yang ingin disampaikan?”

Dirga melangkah mendekat, menjaga nada suaranya tetap tenang. Ia sempat melirik ke arah Raka yang terbaring, lalu kembali menatap ibunya. “Baiklah, saya akan langsung menyampaikan maksud kedatangan saya. Seluruh biaya pengobatan dan perawatan anak Ibu akan ditanggung sepenuhnya oleh rumah sakit.” Ia memberi jeda singkat sebelum melanjutkan, “Selain itu, kami juga akan memberikan beasiswa pendidikan kepada anak Ibu hingga ia menyelesaikan perguruan tinggi, di mana pun yang ia inginkan.”

Sang ibu terdiam. Matanya membesar, napasnya tertahan, seolah tidak yakin dengan apa yang baru saja ia dengar.

“Sebentar, Dok…” ucapnya ragu. “Saya… saya sangat bersyukur mendengarnya, tapi… bolehkah saya tahu alasannya?”

Dirga tersenyum tipis. Tatapannya tetap tenang, tanpa sedikit pun berubah. “Tidak ada alasan atau maksud tertentu,” jawabnya ringan. “Yang jelas, apa yang saya sampaikan bukanlah kebohongan.”

Tangan sang ibu refleks menutup mulutnya. Air matanya langsung jatuh tanpa tertahan.

Ia berlutut begitu saja di hadapan Dirga. “Do… Dokter… terima kasih banyak…” ucapnya terbata. “Saya tidak tahu harus membalasnya dengan cara apa…”

Dirga segera meraih bahunya, mengangkatnya dengan lembut namun tegas. “Tidak perlu seperti ini, Ibu Nirmala,” katanya. “Ibu tidak perlu membalas apa pun. Cukup rawat anak Ibu dengan baik.”

Wanita itu berdiri kembali, meski air matanya masih mengalir. Ia berusaha menghapusnya dengan cepat. “Sekali lagi… terima kasih banyak, Dok,” ucapnya lirih.

Dirga mengangguk singkat, lalu mengeluarkan ponsel dari sakunya. “Baiklah. Sebelum saya pergi, apakah ada nomor yang bisa saya hubungi?”

Ibu Nirmala segera mengeluarkan ponsel lamanya. Jemarinya gemetar saat menyebutkan nomor yang tertera di layar.

Dirga mencatatnya dengan cepat, lalu menyimpan kembali ponselnya. “Saya akan menghubungi Ibu kembali nanti. Urusan saya sudah selesai, jadi saya pamit.”

Mereka berjabat tangan singkat. Dirga lalu berbalik, diikuti dokter yang merawat Raka.

Pintu ICU terbuka, lalu perlahan menutup kembali di belakang mereka, meninggalkan Ibu Nirmala yang masih berdiri terpaku di dalam ruangan.

Beberapa menit kemudian, setelah meninggalkan ICU, Dirga kembali ke ruangannya. Ponsel itu sudah berada di tangannya; ibu jarinya hampir menekan layar untuk melakukan panggilan, namun suara ketukan di pintu menghentikan gerakannya.

“Masuklah,” ucapnya singkat.

Pintu terbuka, memperlihatkan seorang pria yang langsung menundukkan kepala dengan sopan. “Selamat sore, Dokter Dirga,” ujarnya. “Mohon maaf mengganggu, saya ingin membicarakan sesuatu yang penting.”

Dirga mengangguk kecil. Ia melangkah menjauh dari meja kerja, menuju area duduk di dekat jendela. “Selamat sore, Pak Adian. Silakan duduk.”

Keduanya duduk berhadapan. Suasana ruangan kembali tenang, hanya diisi suara pendingin udara yang berdengung pelan.

“Jadi, apa yang ingin Anda diskusikan?” tanya Dirga, menautkan jemarinya di atas lutut.

Pak Adian menarik napas sejenak sebelum mulai berbicara. Tatapannya serius, berbeda dari sikap santainya tadi. “Saya menerima masukan sekaligus keluhan dari beberapa dokter spesialis,” ujarnya. “Terutama di bidang bedah toraks, kardiak, dan vaskular.” Ia berhenti sejenak, memastikan Dirga memperhatikan. “Mereka merasa jumlah tenaga saat ini tidak mencukupi. Kasus yang masuk semakin banyak, dan membutuhkan penanganan khusus di bidang tersebut.”

Dirga tersenyum tipis, seolah tidak terkejut. “Jadi maksud Anda, ingin membuka rekrutmen dokter spesialis di bidang itu?”

“Betul sekali,” jawab Pak Adian cepat. “Terlebih… Dokter Calista tampaknya memiliki banyak kegiatan di luar, sehingga tidak selalu dapat menangani kasus di sini.”

Dirga mengangguk pelan. Pandangannya sejenak mengarah ke meja, sebelum kembali pada lawan bicaranya. “Baiklah, saya menyetujui usulan itu,” ujarnya ringan, lalu menambahkan dengan sedikit nada bercanda, “apalagi ini datang dari kepala bagian SDM.”

Pak Adian tersenyum kecil; bahunya sedikit mengendur. “Kalau begitu, saya akan menyiapkan berkas-berkas yang perlu ditandatangani,” katanya.

“Baik,” balas Dirga. “Jika saya tidak ada di ruangan, hubungi saja nomor pribadi saya.”

Pak Adian mengangguk, lalu berdiri. Keduanya berjabat tangan singkat sebelum ia meninggalkan ruangan. Pintu tertutup perlahan.

Ruangan kembali hening.

Dirga tetap duduk di tempatnya. Beberapa detik ia terdiam, lalu bahunya bergetar pelan sebelum akhirnya ia tertawa.

“Siapa yang bisa menahan…” gumamnya; senyum lebar muncul di wajahnya. “Apalagi menyuruh malaikat maut yang menyamar menjadi dokter.”

Tawa itu perlahan mereda, tetapi senyum di wajahnya tidak hilang. Tatapannya kembali jatuh pada layar ponsel yang masih menyala—tertulis nama kontak Nona Calista Adeline.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Rahasia Gelap Sang Dokter Cantik   Kesedihan Seorang Dokter

    Calista berjalan menuju tangga darurat. Begitu tiba di sana, sosoknya menghilang dan berpindah ke tempat yang tidak seharusnya ada di dunia manusia. Bersamaan dengan itu, jas dokter putih yang dikenakannya berganti menjadi gaun hitam yang anggun.Hamparan padang bercahaya membentang tanpa batas di bawah langit keperakan yang tanpa matahari. Di tengah keheningan, banyak jiwa berjalan dalam barisan panjang menuju sebuah jembatan raksasa di kejauhan, sebagian ditemani sosok berjubah gelap yang mengawal mereka.Pandangan Calista perlahan menyusuri lautan jiwa yang bergerak itu hingga akhirnya berhenti pada sosok yang dicarinya. Tanpa membuang waktu, ia segera bergegas menghampiri pria tersebut."Tunggu." Suara itu membuat keduanya menghentikan langkah.Sosok berjubah hitam itu segera berbalik. Begitu melihat siapa yang memanggilnya, tubuhnya langsung menegang.“Nona...” ucapnya gugup. “Ke... kenapa Anda menghentikan saya?” tanyanya dengan suara bergetar."Diam kau," ucap Calista dingin. "

  • Rahasia Gelap Sang Dokter Cantik   Tangisan di ICU

    Benda yang berada di tangan Calista ternyata hanyalah sebuah foto yang sudah sedikit kusam dimakan usia. Sudut-sudutnya telah menguning, sementara permukaannya dipenuhi goresan halus akibat terlalu sering disentuh.Di dalam foto itu, seorang pria paruh baya tengah tersenyum lebar sambil merangkul seorang anak laki-laki yang tampak berusia sekitar delapan belas tahun. Keduanya tertawa ke arah kamera dengan ekspresi yang begitu bahagia, seolah tidak ada satu pun beban di dunia mereka.Tatapan Calista perlahan berubah. Jemarinya yang semula hanya memegang foto itu dengan acuh tak acuh kini justru menggenggamnya sedikit lebih erat."Apa itu, Dokter Calista?" tanya Nita pelan. Tatapannya ikut tertuju pada benda di tangan wanita itu."Ini foto pasien dengan anaknya," jawab Calista lirih. Matanya tidak lepas dari wajah kedua orang di dalam foto tersebut.Kevin yang berdiri di sampingnya tiba-tiba memicingkan mata."Dokter Calista..." ucapnya pelan sambil menunjuk bagian belakang foto. "Seper

  • Rahasia Gelap Sang Dokter Cantik   Menerima Takdir

    Layar monitor kembali menampilkan hasil CT scan pasien. Cahaya dari proyektor menerangi wajah semua orang di ruangan itu, sementara suasana menjadi jauh lebih sunyi dibanding beberapa menit sebelumnya."Lihat baik-baik," ucap Calista tenang."Apakah kalian menemukan sesuatu?" lanjutnya sambil melipat kedua tangan di depan dada.Kevin mempersempit matanya dan mencondongkan tubuh ke depan. Di sampingnya, Nita segera memperbesar hasil rekonstruksi tiga dimensi.Beberapa detik berlalu. Kevin dan Nita saling berpandangan sejenak sebelum akhirnya menggeleng pelan."Tidak ada, Dokter Calista," ucap Nita dengan nada pasrah."Perbesar area arteri renalis dan mesenterika," perintah Calista."Aku ingin kalian memperhatikan baik-baik pembuluh darah yang memasok ginjal dan usus." Tatapannya masih tertuju pada layar.Tangan Nita tampak sedikit gemetar. Begitu gambar diperbesar, mata Nita dan Kevin langsung membelalak."Malfungsi organ sistemik..." gumam Nita dengan suara bergetar. Wajahnya yang sem

  • Rahasia Gelap Sang Dokter Cantik   Ujian Dokter Residen

    Sesampainya di Departemen Bedah Toraks, Kardiak, dan Vaskular, Raka dan Calista mendapati ruang itu dalam keadaan kosong. Namun, dari balik dinding kaca ruangan diskusi di sebelahnya, terlihat Nita sedang berdiri di depan layar besar sambil memegang pointer, sementara Kevin dan Dokter Hadi duduk memperhatikan dengan wajah serius.Tanpa banyak bicara, Raka dan Calista segera berjalan menuju ruangan itu. Pintu dibuka perlahan, dan seketika perhatian semua orang tertuju kepada mereka."Dokter Calista, Dokter Raka," ucap Nita sambil menghentikan penjelasannya. Ia segera menurunkan pointer dan memberi sedikit hormat."Silakan duduk." Senyum kecil muncul di wajahnya sebelum kembali menghadap layar.Raka dan Calista segera menempati dua kursi kosong yang masih tersisa. Begitu duduk, keduanya langsung memusatkan perhatian pada monitor besar yang menampilkan hasil pemeriksaan pasien."Kebetulan semua dokter spesialis ada di tempat ini," ucap Nita sambil mengatur slide. Ekspresinya sangat seriu

  • Rahasia Gelap Sang Dokter Cantik   Aku Akan Mempertimbangkannya

    "Selamat pagi, Tuan. Selamat pagi semuanya," ucap Raka sambil melangkah masuk ke dalam ruangan. Tatapannya bergantian mengarah kepada Tuan Adrian, Sena, dan istrinya yang masih duduk di samping ranjang pasien."Maaf mengganggu waktu sarapan Anda." Senyum ramah tidak pernah lepas dari wajahnya."Lihat, Dokter Raka sudah datang," tegur Sena sambil menunjuk mangkuk yang masih tersisa. "Dan Ayah belum menghabiskan makananya.""Itu karena kau terus mengajakku berbicara," balas Tuan Adrian sambil mendecakkan lidah pelan.Raka ikut tertawa melihat interaksi keduanya. Setelah suasana sedikit tenang, ia melangkah ke samping dan mempersilakan wanita di belakangnya maju."Perkenalkan," ucap Raka sambil tersenyum. "Dia adalah Dokter Calista.""Dia dan aku akan bekerja sama dalam operasi Anda." Tatapannya kemudian beralih kepada wanita di sampingnya.Tuan Adrian memperhatikan keduanya beberapa saat. Senyum kecil perlahan muncul di wajah pria paruh baya itu."Kalian terlihat sangat cocok," ucapnya

  • Rahasia Gelap Sang Dokter Cantik   Keanehan Terjadi Lagi

    Tepat di depan pintu lift, langkah Raka akhirnya berhenti. Sementara Calista yang sejak tadi hanya mengikuti di belakangnya perlahan kembali tersadar dari keterkejutannya.Barulah saat itu ia menyadari bahwa pergelangan tangannya masih berada dalam genggaman pria di depannya. Tatapan wanita itu langsung tertuju pada tangan mereka yang saling bersentuhan."Lepaskan tanganku," ucap Calista dingin. Alisnya sedikit berkerut saat menatap punggung Raka."Tidak," jawab Raka tanpa menoleh. Sudut bibirnya justru sedikit terangkat."Kalau aku lepaskan, kau pasti akan pergi." Ia masih berdiri tenang seolah itu adalah hal yang wajar."Cepat lepaskan," ucap Calista lagi. Tatapannya mulai menyipit."Jika tidak..." Kalimatnya terhenti di tengah jalan, sementara jemarinya sedikit mengepal.Namun Raka tetap tidak memedulikannya. Perhatian pria itu justru tertuju pada angka lift yang terus bergerak naik.Dan tanpa disadari Raka, sekelebat api biru kecil tiba-tiba muncul di sekitar pergelangan tangan Ca

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status