Share

Konsekuensi

Penulis: Tinta_Jojon
last update Tanggal publikasi: 2026-04-22 19:05:33

Wanita bergaun hitam itu kembali ke ruangan tempat ia pertama kali muncul. Ia duduk di depan meja marmer, punggungnya tegak, napasnya tertahan. Tangan kirinya mencengkeram sesuatu yang berdenyut, berusaha ia tahan agar tidak lepas dari kendali.

Pakaiannya telah kembali seperti semula. Namun wajahnya memucat, rahangnya mengeras menahan nyeri yang menjalar. Dari sela jemarinya, cahaya biru redup merembes, bergetar liar seperti makhluk hidup yang ingin bebas.

Ia meraih ponsel dengan gerakan cepat. Jarinya sedikit gemetar saat menekan satu nama, lalu mengangkatnya ke telinga.

"Dirga, segera antarkan es batu dan isi penuh tempat untuk berendam."

"Baik, Nona Adeline. Saya akan menyiapkannya," jawab suara di seberang, tenang dan sigap.

Sementara itu, di ruangan lain, sebuah meja kerja berdiri rapi dengan papan nama terukir jelas: Direktur Utama Dr. dr. Dirga Adinata, Sp.B.

Pria itu berdiri di samping meja, ponsel masih menempel di telinganya. Tatapannya tajam, seolah sudah memahami situasi tanpa perlu penjelasan panjang.

"Siapkan es batu seperti biasa. Secepatnya."

Ia menutup panggilan tanpa menunggu respons. Bahunya sedikit menegang sebelum ia mengembuskan napas panjang, mencoba menahan kegelisahan yang mulai merayap.

"Sepertinya Nona melanggar aturan lagi," gumamnya pelan.

Langkahnya cepat saat meninggalkan ruangan. Jas dokternya berkibar ringan mengikuti gerak tubuhnya. Lorong rumah sakit terasa lebih dingin dari biasanya, sunyi yang aneh menyelusup di sela langkahnya.

Ia memasuki lift tanpa menoleh ke belakang. Jarinya menekan tombol menuju lantai teratas, dan pintu perlahan menutup. Angka-angka mulai bergerak naik, memantulkan bayangan wajahnya yang dipenuhi firasat buruk.

Begitu pintu lift terbuka, ia langsung berlari menuju ruangan Adeline.

"Nona, apakah Anda baik-baik saja?" teriaknya begitu pintu terbuka tanpa sempat mengetuk.

"Jika ingin masuk, setidaknya ketuk dulu pintunya," tegas Adeline, nada suaranya tajam meski napasnya tersengal.

"Maafkan saya, Nona," balas Dirga cepat. "Saya sangat mengkhawatirkan keadaan Anda."

"Tenanglah, aku tidak akan mati," ujar Adeline, suaranya tertahan. Ia menekan tangan kirinya kuat-kuat. "Bahkan jika api di tangan kiriku menyelimuti seluruh tubuhku."

Dirga terdiam. Rahangnya mengeras, namun tak ada kata yang keluar. Ia tahu benar, rasa sakit yang ditanggung wanita itu jauh melampaui batas yang bisa dipahami manusia.

"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Nona Adeline, matanya menyipit. "Lebih baik pastikan apakah permintaanku sudah beres."

Dirga tersentak, segera meraih ponselnya. Namun sebelum ia sempat menghubungi siapa pun, perangkat itu lebih dulu berdering di tangannya.

"Dokter Dirga, semuanya sudah siap," terdengar suara dari seberang.

"Baik, terima kasih," jawabnya singkat sebelum memutus sambungan.

Ia menatap Adeline dengan sigap. "Semua sudah siap, Nona. Mari saya antar."

"Tidak perlu," potong Adeline. Ia berdiri, tubuhnya sedikit goyah. "Kau tunggu saja kabar dariku."

Ia melangkah mendekati pintu, napasnya berat, satu tangannya masih menekan cahaya yang terus bergetar.

"Ada hal yang ingin kubicarakan setelah keadaanku membaik," lanjutnya tanpa menoleh.

"Baiklah, jika begitu," jawab Dirga, suaranya tertahan.

Langkah Adeline semakin berat. Ia tertatih, hampir kehilangan keseimbangan saat mencapai ambang pintu.

"Nona...!" seru Dirga, refleks maju selangkah.

Wanita itu hanya mengangkat satu tangan, memberi isyarat agar ia tidak mendekat.

Dirga tetap mengikuti dari belakang, menjaga jarak. Ia melihat Adeline berjalan menyusuri lorong, tangannya meraba dinding untuk menahan diri agar tidak jatuh.

"Dewa... kenapa kau menghukumnya sampai seperti ini?" gumam Dirga lirih, matanya terpaku pada sosok yang semakin menjauh. "Padahal... dia tidak seburuk itu."

Di lantai bawah, suasana berbeda terasa di area lobby utama.

Suara bisik-bisik pelan mengalir di balik meja resepsionis.

Dua resepsionis berdiri berdampingan. Layar komputer memantulkan cahaya pucat ke wajah mereka, sementara tangan mereka sesekali bergerak, berpura-pura sibuk. Namun, perhatian mereka jelas tidak sepenuhnya pada pekerjaan.

"Aku mendengar desas-desus bahwa di lantai teratas ada tempat tinggal dari pemilik rumah sakit ini," ucap resepsionis wanita, suaranya direndahkan, matanya sekilas melirik ke sekitar.

Resepsionis pria mengangkat alis, sedikit menyandar pada meja. "Memangnya ada masalah dengan itu?" balasnya santai. "Bukankah itu hak mereka yang punya kekuasaan?"

Wanita itu menghela napas pelan, jari-jarinya mengetuk permukaan meja. "Iya, kau benar. Hanya saja... sosok pemilik rumah sakit ini sangat misterius." Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada lebih serius, "Dan dari yang aku tahu, ia punya julukan Dewi Hidup dan Mati."

Resepsionis pria itu terkekeh pelan, namun raut wajahnya berubah penasaran. "Maksudmu? Dia bisa mengendalikan kehidupan dan kematian?"

"Dasar bodoh," sahut wanita itu cepat, sedikit kesal. Ia memutar bola matanya. "Memangnya dia dewa?"

Pria itu mengangkat kedua tangan, menyerah. "Lalu apa maksudmu dengan Dewi Hidup dan Mati?"

Wanita itu mencondongkan tubuh, suaranya semakin pelan. "Dari cerita yang kudengar, dulu dia dokter yang sangat berbakat. Seolah mampu menangani operasi sesulit apa pun." Ia menelan ludah, lalu melanjutkan, "Tapi di lain waktu, dia juga beberapa kali menolak mengobati pasien... bahkan untuk luka ringan."

Resepsionis pria mengangguk perlahan, keningnya berkerut. "Lalu?"

"Yang aneh," lanjut wanita itu, "kebanyakan pasien yang ditolak itu justru meninggal. Padahal luka mereka tidak serius."

Pria itu terdiam sejenak, sorot matanya berubah. "Kalau begitu... julukan itu tidak berlebihan." Ia menatap rekannya. "Kau tahu cerita itu dari mana?"

"Dari para senior yang sudah lama bekerja di sini," jawab wanita itu. Ia melirik ke arah lorong panjang rumah sakit. "Tapi mereka pun tidak pernah benar-benar tahu seperti apa sosok pemiliknya."

Resepsionis pria mengembuskan napas pendek, lalu tersenyum tipis. "Cerita yang menarik," katanya ringan. "Tapi sudahlah. Setidaknya aku bangga bekerja di sini. Rumah sakit ini banyak membantu kegiatan amal."

Wanita itu mengangguk setuju. Jemarinya kembali menari di atas keyboard, seolah percakapan tadi tak pernah terjadi.

Tak jauh dari sana, suasana kontras hadir di ruang ICU.

Bunyi detak monitor memecah sunyi, teratur namun terasa menegangkan.

Seorang anak kecil terbaring di atas ranjang, tubuhnya nyaris tak bergerak di bawah selimut putih. Selang infus menjuntai dari lengannya, sementara layar di sampingnya memantulkan garis-garis kehidupan yang naik turun perlahan.

Di sisi ranjang, seorang wanita paruh baya dengan pakaian lusuh menggenggam tangan kecil itu erat-erat. Jemarinya bergetar, seolah takut kehilangan sentuhan yang tersisa. Matanya sembap, menatap wajah pucat anaknya tanpa berkedip.

"Nak... ibu di sini," bisiknya lirih, suaranya hampir tenggelam oleh suara mesin. Ia menunduk, dahinya nyaris menyentuh tangan anak itu. "Maafkan ibu... tidak menjemputmu ke sekolah... sampai jadi seperti ini."

Beberapa detik berlalu, hanya diisi oleh suara napas tertahan dan denting alat medis.

Pintu terbuka pelan. Seorang dokter masuk dengan langkah terukur, matanya segera tertuju pada keduanya. Ia mendekat, menjaga suaranya tetap rendah.

"Bu, mohon maaf. Pasien sedang dalam pemulihan intensif," ujarnya hati-hati. "Untuk saat ini, Ibu harus meninggalkan ruangan."

Wanita itu menoleh cepat, genggamannya semakin erat. "Tapi, Dok... anak saya..." suaranya menggantung, penuh keraguan.

Dokter itu tersenyum tipis, mencoba menenangkan. "Tenang saja, Bu. Kondisinya sudah melewati masa kritis." Ia memberi jeda sejenak sebelum menambahkan, "Sekarang yang dibutuhkan adalah istirahat total."

Sang ibu menarik napas panjang. Bahunya turun perlahan, seolah menyerah pada keadaan. Ia menatap wajah anaknya sekali lagi, lalu melepaskan genggamannya dengan berat.

"Baiklah, Dok... terima kasih," ucapnya pelan.

Mereka berdua berjalan menuju pintu. Langkah sang ibu tertatih, sesekali menoleh ke belakang sebelum akhirnya keluar dari ruangan.

Pada saat yang sama, di lantai teratas, kondisi yang berbeda tengah berlangsung.

Uap tipis mengepul dari permukaan air, memenuhi ruangan luas itu dengan hawa yang bertolak belakang, seolah dingin dan panas hadir bersamaan.

Ruangan itu menyerupai kamar mandi besar dengan dinding marmer yang berkilau redup. Di sudutnya, sebuah bathtub mewah berukuran besar terisi penuh air dan bongkahan es. Permukaannya bergetar halus.

"Dewa sialan," desis seorang perempuan di dalam bathtub.

Itu adalah Adeline, berendam tanpa sehelai benang pun. Tubuhnya tertutup es hingga ke bahu, namun dari kulitnya merambat nyala api biru yang berdenyut pelan. Cahaya itu menjalar seperti makhluk hidup, membungkus tubuhnya dengan panas yang bertentangan dengan dinginnya air.

Napasnya terputus-putus. Jari-jari tangannya mencengkeram tepi bak, urat-uratnya menegang saat ia menahan gelombang nyeri yang datang bertubi-tubi.

"Aku tidak akan patuh hanya dengan hukuman seperti ini," lanjutnya, suaranya rendah namun sarat perlawanan.

Permukaan air beriak lebih kuat. Uap mulai mengembun di seluruh ruangan, menempel pada dinding dan lantai, menciptakan kabut tipis yang perlahan menebal. Es-es di sekitarnya mencair lebih cepat, berderak pelan saat bersentuhan dengan panas dari tubuhnya.

Dengan satu ayunan jarinya, ia mengangkat sebuah wadah berisi es di samping bak. Gerakannya berat, namun tetap terarah. Bongkahan es itu ia tuangkan kembali ke dalam air.

Suara benturan es dengan air terdengar keras, diikuti desisan tajam saat bersentuhan dengan panas yang terpancar dari tubuhnya. Kabut semakin pekat, menelan sebagian pandangan.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Introvert
wah baru sampe bab 3, tapi sosok Adeline udah bikin penasaran
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Rahasia Gelap Sang Dokter Cantik   Kelahiran Malaikat Maut

    Aroma anyir darah tercium dari sudut-sudut aula utama yang kini telah berubah menjadi kuburan massal. Puluhan jasad prajurit istana yang melakukan bunuh diri massal terkapar tumpang tindih dengan sisa pasukan perbatasan yang gugur. Dalam waktu kurang dari satu hari, kemegahan Kerajaan Jayantara runtuh total, menyisakan keheningan yang mencekam dan pemandangan yang amat mengerikan.Putri Jayasari perlahan turun dari atas singgasana berdarah, melangkah gontai melewati genangan cairan merah yang membasahi lantai. Ujung gaunnya yang koyak terseret di atas lantai, sementara tangan kanannya masih menggenggam erat pedang yang telah merenggut nyawa ayahandanya. Langkah kakinya terhenti tepat di samping jasad Rangga Tirta yang kini telah terbujur kaku."Tunggu aku, Rangga... Dunia ini tidak lagi memiliki tempat bagi kita," bisik Putri Jayasari dengan suara lirih yang dipenuhi keputusasaan mendalam sembari menatap tubuh Rangga Tirta.Tanpa ragu sedikit pun, ia membalikkan arah hulu pedangnya da

  • Rahasia Gelap Sang Dokter Cantik   Amuk Badai Dendam

    Putri Jayasari bergerak bagaikan hembusan angin malam yang mematikan, menebas leher dua prajurit pengawal yang mencoba mendekatinya hingga darah segar menyembur ke pilar batu. Tidak ada lagi kelembutan seorang putri di dalam dirinya, hanya ada seonggok raga yang digerakkan oleh kepedihan dan dendam mutlak.Tebasan demi tebasan ia layangkan tanpa ampun, merubuhkan setiap prajurit istana yang berani menghadang langkahnya menuju altar singgasana. Di sela-sela dentingan besi dan erangan sekarat korbannya, air mata terus mengalir membasahi pipinya yang tercoreng noda merah. Ia mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, menatap bilah baja itu dengan pandangan yang kosong sekaligus penuh luka."Lihatlah pedangku, Rangga Tirta..." bisik Putri Jayasari dengan suara parau yang menyayat hati di tengah riuhnya pertempuran. "Bukankah sekarang aku sudah mampu menyaingimu di medan perang?!" Air matanya menetes jatuh tepat di atas sabetan darah baru pada mata pedangnya, merefleksikan kepedihan mendalam ata

  • Rahasia Gelap Sang Dokter Cantik   Eksekusi Sang Kesatria

    Surya Brama mengepalkan kedua tangannya hingga bergetar menyaksikan sang jenderal diperlakukan layaknya seorang kriminal rendahan. Amarahnya meluap melampaui batas kesabaran, merobek seluruh rasa hormatnya pada institusi kerajaan. Dengan gerakan tegas, ia melangkah maju dan melepaskan seluruh atribut militernya ke tanah berbatu alun-alun."Aku tidak sudi mengabdi pada kerajaan yang memperlakukan pahlawannya seperti binatang!" seru Surya Brama, tatapannya menembus langsung ke arah sepasang mata Patih Wiranegara. "Ikat aku dan bawa aku bersama Jenderal Rangga Tirta, karena aku tidak akan membiarkan beliau berjalan sendirian!""Sangat heroik, Surya Brama. Ikat pria bodoh ini bersama jenderalnya!" balas Patih Wiranegara sembari melambaikan tangan dengan nada meremehkan.Kedua tangan Surya Brama pun segera diikat erat menggunakan tali tambang tebal oleh para prajurit istana. Bersama Jenderal Rangga Tirta, ia digiring melewati koridor-koridor megah menuju aula utama di bawah kawalan ketat p

  • Rahasia Gelap Sang Dokter Cantik   Hadangan

    Dua hari telah berlalu sejak Jenderal Rangga Tirta ditetapkan sebagai pengkhianat, dan situasi di Kerajaan Jayantara tampak kembali seperti biasa. Namun, keheningan itu mendadak pecah ketika dari kejauhan gerbang kota, kepulan debu tipis membubung ke udara. Tiga puluh lima orang prajurit mengendarai kuda dengan pakaian zirah yang hancur, dipimpin oleh Jenderal Rangga Tirta yang tubuhnya dipenuhi luka serta darah yang mengering.Rangga Tirta berhasil kembali dengan selamat, namun pasukan lainnya banyak yang telah gugur. Tepat ketika hampir sampai di gerbang istana, Jenderal Rangga Tirta turun dari kudanya diikuti oleh pasukan di belakangnya, lalu berjalan menuju pintu gerbang.Tepat ketika kaki mereka hendak menginjak ambang gerbang kota, beberapa tombak besar mendadak disilangkan di depan dada Rangga Tirta. Dua orang prajurit penjaga gerbang berdiri kokoh dengan tatapan dingin, sama sekali tidak menunjukkan rasa hormat kepada sang jenderal. Barisan pasukan di belakang Rangga Tirta sek

  • Rahasia Gelap Sang Dokter Cantik   Fitnah

    Maharaja Jayawardhana masih duduk termenung di singgasananya, menatap kosong ke arah lantai batu. Guratan kesedihan yang mendalam tampak di wajahnya karena prajurit-prajurit terbaik yang dikirimkannya mungkin telah gugur.Kehadiran sang patih yang tiba-tiba membuat sang raja perlahan mengangkat kepalanya dengan raut wajah yang letih."Maharaja Jayawardhana, mohon ampun atas kelancangan hamba yang kembali secepat ini," ucap Patih Wiranegara sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Namun, hamba baru saja menerima sebuah laporan yang sangat mengejutkan mengenai kelakuan Jenderal Rangga Tirta di belakang Anda.""Laporan apa lagi yang kau bawa, Wiranegara?" tanya Maharaja Jayawardhana dengan nada suara berat yang dipenuhi rasa curiga. "Jangan membuatku semakin pusing dengan urusan yang tidak mendasar.""Ini mengenai kehormatan keluarga istana, Maharaja," jawab Patih Wiranegara. Ia sengaja menurunkan intonasi suaranya agar terdengar rahasia dan genting."Hamba mendapatkan bukti bahwa Jend

  • Rahasia Gelap Sang Dokter Cantik   Rencana Cadangan

    Putri Jayasari berjalan tergesa-gesa menyusuri lorong istana. Langkahnya begitu cepat hingga prajurit yang baru saja menyampaikan laporan kepadanya harus berlari kecil untuk mengimbangi langkah sang putri. Wajah Jayasari memerah, sementara kedua tangannya mengepal erat, menahan amarah yang terus bergolak di dalam dadanya.Semakin dekat dengan aula utama, napas Putri Jayasari semakin memburu. Di dalam pikirannya saat ini hanyalah keselamatan Rangga Tirta yang kini bertarung di perbatasan tanpa bala bantuan.Pintu aula utama terbuka dengan keras. Putri Jayasari melangkah masuk tanpa memedulikan etiket kerajaan, membuat seluruh perhatian di dalam ruangan langsung tertuju kepadanya. Tatapannya segera mengunci Maharaja Jayawardhana yang duduk di atas singgasana, sementara Patih Wiranegara masih berdiri tidak jauh dari sang raja."Ayahanda, apa maksud dari semua keputusan ini?!" seru Putri Jayasari. Dadanya naik turun menahan emosi, sementara suaranya bergetar karena kemarahan yang sudah ti

  • Rahasia Gelap Sang Dokter Cantik   Siapa Dia?

    “Anak laki-laki, sekitar tiga belas tahun, korban tabrak lari!” teriak sopir ambulans dengan suara panik. “Satu… dua… tiga… angkat!” perintah dokter itu tegas. Tubuh anak itu dipindahkan dengan cepat. Kepalanya terkulai, wajahnya pucat, napasnya nyaris tak terdengar. Dokter membuka kelopak matanya

  • Rahasia Gelap Sang Dokter Cantik   Identitas Tersembunyi

    Pintu lift belum sepenuhnya terbuka ketika kata-kata itu terlepas dari bibirnya. “Sepertinya aku harus bertanya langsung kepada Ayah,” gumam Dirga pelan. Tatapannya kosong, terpantul samar di dinding logam lift. “Apa yang sebenarnya terjadi pada masa lalu Nona Adeline…?” Begitu pintu terbuka, ia m

  • Rahasia Gelap Sang Dokter Cantik   Perintah

    Air menetes dari ujung rambutnya saat Adeline melangkah keluar dari bathtub. Uap tipis masih bergelayut di udara, sementara kilau api biru yang semula menyelimuti tubuhnya perlahan memudar. Namun ada satu hal yang berubah. Rambutnya kini memutih, menciptakan kontras yang mencolok dengan kulitnya yan

  • Rahasia Gelap Sang Dokter Cantik   Keajaiban (?)

    “Kakak datang untuk menjemputmu,” ucap wanita bergaun hitam itu lembut; suaranya seolah mengalun di antara ruang yang terasa asing dan sunyi. Anak kecil itu menatapnya dengan ragu. Bahunya sedikit merapat, jemarinya saling menggenggam di depan dada, seperti mencari perlindungan yang tak terlihat. T

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status