LOGIN“Kakak datang untuk menjemputmu,” ucap wanita bergaun hitam itu lembut; suaranya seolah mengalun di antara ruang yang terasa asing dan sunyi.
Anak kecil itu menatapnya dengan ragu. Bahunya sedikit merapat, jemarinya saling menggenggam di depan dada, seperti mencari perlindungan yang tak terlihat. Tatapannya naik turun, berusaha memahami sosok di hadapannya yang terasa begitu nyata sekaligus tidak masuk akal. “Aku… mau dibawa ke mana, Kak?” suaranya pelan, nyaris bergetar, seolah takut pada jawaban yang mungkin akan ia terima. Wanita itu tersenyum tipis. Sorot matanya tetap tenang, terlalu tenang untuk situasi yang terasa begitu ganjil. “Ke tempat yang jauh lebih menyenangkan daripada kehidupanmu sebelumnya,” jawabnya lembut. Anak itu terdiam. Bibirnya bergetar sebelum akhirnya ia bertanya lagi, kali ini dengan keraguan yang lebih jelas. “Itu berarti… aku harus meninggalkan Ibu?” Wanita itu tidak menjawab dengan kata-kata; ia hanya mengangguk pelan, gerakannya halus namun tegas. Anak itu menundukkan kepala. Napasnya tertahan, sementara bahunya bergetar pelan seolah menahan sesuatu yang hampir pecah. Di belakang mereka, bayangan samar ruang operasi masih tampak bergerak. Para dokter dan perawat terus berusaha tanpa menyerah. “Aku sudah janji sama Ibu,” katanya lirih, hampir seperti bisikan yang ditelan keheningan. “Aku mau belikan baju yang indah kalau sudah besar nanti.” Ia mengangkat wajahnya; matanya mulai basah. Kilau air mata itu memantulkan tekad yang tak goyah. “Aku tidak bisa pergi sekarang.” Wanita itu menatapnya beberapa saat. Ekspresinya tidak berubah, tetapi sepasang mata itu seolah mampu melihat lebih jauh dari sekadar kata-kata, menangkap keinginan yang keras kepala namun lahir dari ketulusan. “Jadi… kau tidak ingin ikut kakak?” tanyanya pelan, memberi ruang bagi anak itu untuk memilih. Anak itu menggeleng, kali ini lebih mantap. “Aku mau menepati janjiku.” Hening sejenak. Hanya gema samar suara alat medis yang terdengar dari kejauhan, seperti denyut kehidupan yang belum sepenuhnya padam. “Kalau begitu,” ucap wanita itu akhirnya, “kakak ingin kau berjanji satu hal.” Anak itu mengangkat kepala; harapan kecil mulai muncul di matanya. “Apa itu, Kak?” Wanita itu sedikit menunduk, menyamakan tinggi pandangannya. “Saat usiamu dua puluh lima tahun, kakak akan datang lagi menjemputmu.” Ia berhenti sejenak, memastikan setiap kata benar-benar dipahami. “Dengan begitu, kau punya waktu untuk menepati janji pada ibumu. Kau setuju?” Anak itu terdiam beberapa saat, mempertimbangkan, lalu mengangguk perlahan. “Iya, Kak. Aku setuju.” “Baik,” ucap wanita itu pelan. Nada suaranya berubah—masih lembut, tetapi kini menyimpan ketegasan yang dingin, seperti hukum yang tidak bisa ditawar. “Ingat, jika nanti kau menolak pergi… kakak akan jauh lebih kejam daripada orang-orang yang sering menyakitimu.” Ancaman itu menggantung, tajam namun tanpa emosi. Anak itu tidak mundur. Justru senyum kecil muncul di wajahnya, rapuh namun penuh tekad. “Aku janji, Kak,” ucapnya pelan. “Aku tidak akan ingkar.” Wanita itu menatapnya beberapa detik, lalu mengangkat tangan dan mengusap pelan kepala anak itu dengan sentuhan yang terasa hangat. “Anak baik,” bisiknya. “Kalau nanti ada yang jahat padamu, lawan mereka. Jangan pernah menyerah. Mengerti?” Anak itu mengangguk cepat. “Iya, Kak. Aku akan melawan mereka.” Wanita itu tersenyum tipis. “Sekarang… pejamkan matamu.” Anak itu menurut. Kelopak matanya menutup perlahan, napasnya menjadi tenang, seolah ia sedang tertidur lelap. Satu jentikan jari terdengar. Tubuh samar anak itu terangkat, melayang ringan, lalu melesat kembali ke tubuhnya yang terbaring di meja operasi. Pada saat yang sama, di ruang operasi, perjuangan belum berakhir. Dokter masih menekan dada kecil itu. Keringat mengalir di pelipisnya, napasnya memburu, tanda usaha yang hampir mencapai batas. “Teruskan… jangan berhenti,” gumamnya, seolah menyemangati dirinya sendiri. Seorang perawat menatap monitor, lalu menggeleng pelan. Tangannya bergerak memberi isyarat, ragu namun sadar akan kenyataan. “Dok… sudah cukup.” Tekanan di dada itu berhenti. Ruangan mendadak sunyi, seakan semua harapan ikut terhenti. Namun sesaat kemudian, satu bunyi pendek memecah keheningan. Garis datar di monitor bergerak pelan sebelum perlahan kembali naik. Dokter itu membeku, matanya melebar. “Tunggu...” Ia mendekat cepat ke monitor, seolah tidak percaya pada apa yang dilihatnya. “Irama jantung kembali?!” Perawat lain segera memeriksa ulang. Tangan mereka bergerak cepat, mengganti alat, mengecek respons, memastikan ini bukan kesalahan. “Tekanan darah naik, Dok!” “Nadi teraba!” Dokter itu mengembuskan napas panjang. Tangannya masih gemetar saat menatap anak tersebut, seolah belum sepenuhnya mempercayai apa yang baru saja terjadi. “Dia... selamat?” bisiknya pelan. “Semua tanda vital normal, Dok!” Untuk beberapa detik, tidak ada yang berbicara. Hanya suara monitor yang kini stabil memenuhi ruangan, menjadi bukti bahwa kehidupan telah kembali. Di sudut ruangan, jauh dari perhatian siapa pun, wanita bergaun hitam itu masih berdiri dalam diam. Senyum tipis terukir di bibirnya, nyaris tak terlihat. “Waktunya pergi,” gumamnya pelan. Ia melangkah menembus pintu keluar. Dalam sekejap, tubuhnya memudar, lalu lenyap tanpa jejak, seolah ia tak pernah ada. Beberapa saat kemudian, di ruang tunggu IGD, suasana kembali terasa berbeda. Dua sosok samar duduk berdampingan. Tubuh mereka nyaris tak meninggalkan bayangan. Namun, tatapan keduanya tertuju pada lorong yang baru saja dilalui wanita itu. “Bukankah dia… malaikat maut?” tanya sosok yang tampak lebih muda, suaranya dipenuhi ragu. "Ya, tentu saja," jawab sang nenek sambil memperbaiki posisi duduknya. "Hanya dia yang memiliki aura semenakutkan itu." Arwah muda itu masih menatap lorong. Dahinya berkerut, seolah ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya. “Tapi… kenapa dia pergi tanpa membawa jiwa siapa pun?” Nenek itu mendengus pelan. Sorot matanya tajam, seakan menilai kebodohan di hadapannya. “Tentu saja kau tidak akan mengerti,” katanya. “Dia satu-satunya malaikat maut yang berani menentang aturan para dewa.” Arwah muda itu menoleh cepat. “Maksudnya?” “Kadang, dia membiarkan beberapa jiwa kembali ke tubuhnya… atau tetap tinggal di dunia,” lanjut sang nenek pelan. “Memberi mereka waktu untuk menyelesaikan urusan yang belum sempat diselesaikan.” Arwah muda itu terdiam, lalu matanya berbinar. “Berarti… dia malaikat maut yang baik?” katanya pelan. “Seperti keajaiban bagi manusia.” Nenek itu terkekeh sinis. “Keajaiban?” ulangnya. “Tidak ada yang namanya keajaiban.” Ia menatap lurus ke depan; suaranya mengeras. “Yang ada hanyalah utusan dewa yang gagal menjalankan tugasnya dengan benar.” Arwah muda itu terdiam, mencoba memahami makna di balik kata-kata itu. “Kalau begitu… dia akan dihukum?” tanyanya lagi. “Sudah pasti,” jawab nenek itu tanpa ragu. “Setiap pelanggaran punya konsekuensi.” Ia berhenti sejenak, lalu mengembuskan napas pelan. “Tapi… aku sendiri tidak tahu seperti apa hukumannya.” Arwah muda itu mengangguk pelan. Tatapannya beralih pada nenek di sampingnya, mengamati lebih saksama. “Nek… kau sepertinya sangat mengenalnya.” Senyum tipis terukir di wajah tua itu. Bukan sekadar kebanggaan, melainkan ketenangan yang seolah telah memahami semuanya. “Tentu saja,” jawabnya pelan. Ia menegakkan sedikit tubuhnya. “Aku bukan arwah gentayangan sepertimu. Aku di sini… karena diberi waktu olehnya.” Arwah muda itu tertegun. “Diberi waktu?” Nenek itu mengangguk pelan. “Aku ingin melihat cucuku melahirkan. Dan dia… mengizinkannya.” Hening sejenak. Kata-kata itu menggantung, meninggalkan kesan yang sulit dijelaskan. “Wah… kau beruntung sekali, Nek,” ucap arwah muda itu lirih. Nenek itu tidak langsung menjawab. Pandangannya perlahan terangkat ke langit-langit. Sepasang mata yang telah dimakan usia itu tampak kosong, namun begitu dalam, seolah sedang memandang sesuatu yang tak dapat dilihat oleh orang lain. Di balik wajahnya, tersimpan rasa iba pada sosok yang baru saja pergi, sosok yang mungkin kini sedang menunggu konsekuensi dari belas kasihnya sendiri.Aroma anyir darah tercium dari sudut-sudut aula utama yang kini telah berubah menjadi kuburan massal. Puluhan jasad prajurit istana yang melakukan bunuh diri massal terkapar tumpang tindih dengan sisa pasukan perbatasan yang gugur. Dalam waktu kurang dari satu hari, kemegahan Kerajaan Jayantara runtuh total, menyisakan keheningan yang mencekam dan pemandangan yang amat mengerikan.Putri Jayasari perlahan turun dari atas singgasana berdarah, melangkah gontai melewati genangan cairan merah yang membasahi lantai. Ujung gaunnya yang koyak terseret di atas lantai, sementara tangan kanannya masih menggenggam erat pedang yang telah merenggut nyawa ayahandanya. Langkah kakinya terhenti tepat di samping jasad Rangga Tirta yang kini telah terbujur kaku."Tunggu aku, Rangga... Dunia ini tidak lagi memiliki tempat bagi kita," bisik Putri Jayasari dengan suara lirih yang dipenuhi keputusasaan mendalam sembari menatap tubuh Rangga Tirta.Tanpa ragu sedikit pun, ia membalikkan arah hulu pedangnya da
Putri Jayasari bergerak bagaikan hembusan angin malam yang mematikan, menebas leher dua prajurit pengawal yang mencoba mendekatinya hingga darah segar menyembur ke pilar batu. Tidak ada lagi kelembutan seorang putri di dalam dirinya, hanya ada seonggok raga yang digerakkan oleh kepedihan dan dendam mutlak.Tebasan demi tebasan ia layangkan tanpa ampun, merubuhkan setiap prajurit istana yang berani menghadang langkahnya menuju altar singgasana. Di sela-sela dentingan besi dan erangan sekarat korbannya, air mata terus mengalir membasahi pipinya yang tercoreng noda merah. Ia mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, menatap bilah baja itu dengan pandangan yang kosong sekaligus penuh luka."Lihatlah pedangku, Rangga Tirta..." bisik Putri Jayasari dengan suara parau yang menyayat hati di tengah riuhnya pertempuran. "Bukankah sekarang aku sudah mampu menyaingimu di medan perang?!" Air matanya menetes jatuh tepat di atas sabetan darah baru pada mata pedangnya, merefleksikan kepedihan mendalam ata
Surya Brama mengepalkan kedua tangannya hingga bergetar menyaksikan sang jenderal diperlakukan layaknya seorang kriminal rendahan. Amarahnya meluap melampaui batas kesabaran, merobek seluruh rasa hormatnya pada institusi kerajaan. Dengan gerakan tegas, ia melangkah maju dan melepaskan seluruh atribut militernya ke tanah berbatu alun-alun."Aku tidak sudi mengabdi pada kerajaan yang memperlakukan pahlawannya seperti binatang!" seru Surya Brama, tatapannya menembus langsung ke arah sepasang mata Patih Wiranegara. "Ikat aku dan bawa aku bersama Jenderal Rangga Tirta, karena aku tidak akan membiarkan beliau berjalan sendirian!""Sangat heroik, Surya Brama. Ikat pria bodoh ini bersama jenderalnya!" balas Patih Wiranegara sembari melambaikan tangan dengan nada meremehkan.Kedua tangan Surya Brama pun segera diikat erat menggunakan tali tambang tebal oleh para prajurit istana. Bersama Jenderal Rangga Tirta, ia digiring melewati koridor-koridor megah menuju aula utama di bawah kawalan ketat p
Dua hari telah berlalu sejak Jenderal Rangga Tirta ditetapkan sebagai pengkhianat, dan situasi di Kerajaan Jayantara tampak kembali seperti biasa. Namun, keheningan itu mendadak pecah ketika dari kejauhan gerbang kota, kepulan debu tipis membubung ke udara. Tiga puluh lima orang prajurit mengendarai kuda dengan pakaian zirah yang hancur, dipimpin oleh Jenderal Rangga Tirta yang tubuhnya dipenuhi luka serta darah yang mengering.Rangga Tirta berhasil kembali dengan selamat, namun pasukan lainnya banyak yang telah gugur. Tepat ketika hampir sampai di gerbang istana, Jenderal Rangga Tirta turun dari kudanya diikuti oleh pasukan di belakangnya, lalu berjalan menuju pintu gerbang.Tepat ketika kaki mereka hendak menginjak ambang gerbang kota, beberapa tombak besar mendadak disilangkan di depan dada Rangga Tirta. Dua orang prajurit penjaga gerbang berdiri kokoh dengan tatapan dingin, sama sekali tidak menunjukkan rasa hormat kepada sang jenderal. Barisan pasukan di belakang Rangga Tirta sek
Maharaja Jayawardhana masih duduk termenung di singgasananya, menatap kosong ke arah lantai batu. Guratan kesedihan yang mendalam tampak di wajahnya karena prajurit-prajurit terbaik yang dikirimkannya mungkin telah gugur.Kehadiran sang patih yang tiba-tiba membuat sang raja perlahan mengangkat kepalanya dengan raut wajah yang letih."Maharaja Jayawardhana, mohon ampun atas kelancangan hamba yang kembali secepat ini," ucap Patih Wiranegara sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Namun, hamba baru saja menerima sebuah laporan yang sangat mengejutkan mengenai kelakuan Jenderal Rangga Tirta di belakang Anda.""Laporan apa lagi yang kau bawa, Wiranegara?" tanya Maharaja Jayawardhana dengan nada suara berat yang dipenuhi rasa curiga. "Jangan membuatku semakin pusing dengan urusan yang tidak mendasar.""Ini mengenai kehormatan keluarga istana, Maharaja," jawab Patih Wiranegara. Ia sengaja menurunkan intonasi suaranya agar terdengar rahasia dan genting."Hamba mendapatkan bukti bahwa Jend
Putri Jayasari berjalan tergesa-gesa menyusuri lorong istana. Langkahnya begitu cepat hingga prajurit yang baru saja menyampaikan laporan kepadanya harus berlari kecil untuk mengimbangi langkah sang putri. Wajah Jayasari memerah, sementara kedua tangannya mengepal erat, menahan amarah yang terus bergolak di dalam dadanya.Semakin dekat dengan aula utama, napas Putri Jayasari semakin memburu. Di dalam pikirannya saat ini hanyalah keselamatan Rangga Tirta yang kini bertarung di perbatasan tanpa bala bantuan.Pintu aula utama terbuka dengan keras. Putri Jayasari melangkah masuk tanpa memedulikan etiket kerajaan, membuat seluruh perhatian di dalam ruangan langsung tertuju kepadanya. Tatapannya segera mengunci Maharaja Jayawardhana yang duduk di atas singgasana, sementara Patih Wiranegara masih berdiri tidak jauh dari sang raja."Ayahanda, apa maksud dari semua keputusan ini?!" seru Putri Jayasari. Dadanya naik turun menahan emosi, sementara suaranya bergetar karena kemarahan yang sudah ti
Pintu lift belum sepenuhnya terbuka ketika kata-kata itu terlepas dari bibirnya. “Sepertinya aku harus bertanya langsung kepada Ayah,” gumam Dirga pelan. Tatapannya kosong, terpantul samar di dinding logam lift. “Apa yang sebenarnya terjadi pada masa lalu Nona Adeline…?” Begitu pintu terbuka, ia m
Air menetes dari ujung rambutnya saat Adeline melangkah keluar dari bathtub. Uap tipis masih bergelayut di udara, sementara kilau api biru yang semula menyelimuti tubuhnya perlahan memudar. Namun ada satu hal yang berubah. Rambutnya kini memutih, menciptakan kontras yang mencolok dengan kulitnya yan
Wanita bergaun hitam itu kembali ke ruangan tempat ia pertama kali muncul. Ia duduk di depan meja marmer, punggungnya tegak, napasnya tertahan. Tangan kirinya mencengkeram sesuatu yang berdenyut, berusaha ia tahan agar tidak lepas dari kendali. Pakaiannya telah kembali seperti semula. Namun wajahny
“Anak laki-laki, sekitar tiga belas tahun, korban tabrak lari!” teriak sopir ambulans dengan suara panik. “Satu… dua… tiga… angkat!” perintah dokter itu tegas. Tubuh anak itu dipindahkan dengan cepat. Kepalanya terkulai, wajahnya pucat, napasnya nyaris tak terdengar. Dokter membuka kelopak matanya







