Share

Perintah

Penulis: Tinta_Jojon
last update Tanggal publikasi: 2026-04-22 19:07:37

Air menetes dari ujung rambutnya saat Adeline melangkah keluar dari bathtub. Uap tipis masih bergelayut di udara, sementara kilau api biru yang semula menyelimuti tubuhnya perlahan memudar. Namun ada satu hal yang berubah. Rambutnya kini memutih, menciptakan kontras yang mencolok dengan kulitnya yang pucat.

Ia meraih pakaiannya satu per satu dan mengenakannya dengan gerakan tenang. Kancing terakhir terpasang, ia mengangkat dagu sedikit dan mengembuskan napas panjang ke udara. Hembusan itu seolah membawa sesuatu yang tak terlihat. Perlahan, warna putih di rambutnya memudar, ditelan gelap hingga kembali hitam seperti semula.

Ia meraih ponsel di atas meja tanpa ragu. Layar menyala, dan dalam hitungan detik, panggilan terhubung.

“Dirga, aku sangat lapar. Bawakan makanan kesukaanku seperti biasa.”

“Nona… apakah Anda sudah pulih?” suara di seberang terdengar cepat, hampir memotong.

Adeline memejamkan mata sejenak, lalu membukanya kembali. “Tentu saja,” jawabnya singkat. “Cepatlah. Tidak usah banyak bertanya.”

“Baik, Nona,” sahut Dirga. Ada jeda singkat sebelum ia menambahkan dengan nada ringan, “tapi saya selalu heran dengan kebiasaan Anda yang satu ini. Bagaimana mungkin malaikat maut bisa kelaparan?”

Langkah Adeline terhenti. Tatapannya menajam, meski tak ada yang melihat. “Jika kau terus mengoceh, akan kubuat kematianmu lebih cepat,” ucapnya dingin.

Di seberang, Dirga justru tertawa pelan. “Iya, Nona Calista Adeline, sang malaikat maut yang baik hati.”

“Dirga Adinata…” suara Adeline naik satu tingkat, tajam dan penuh peringatan.

Sambungan terputus seketika.

Ia menurunkan ponsel perlahan, lalu berjalan menuju pintu. Langkahnya kembali stabil, seolah rasa sakit tadi tak pernah ada.

Di waktu yang hampir bersamaan, suasana berbeda menyelimuti ruang tunggu ICU.

Seorang ibu duduk membungkuk, tatapannya terpaku pada lembaran administrasi yang kusut di genggamannya. Angka-angka tercetak rapi di atasnya, dingin dan tak terbantahkan. Napasnya tertahan setiap kali matanya menyusuri baris demi baris biaya.

Jemarinya mencengkeram kertas itu semakin kuat. Bibirnya bergetar, seolah menahan sesuatu yang tak lagi bisa ditahan.

“Ya Tuhan… dari mana aku mendapatkan uang sebanyak ini,” lirihnya.

Air mata jatuh tanpa ia sadari. Ia mengusapnya cepat, namun yang lain segera menyusul. Kepalanya perlahan terangkat, matanya mencari pintu ruang ICU di ujung lorong. Ia menatap ke arah itu lama, seolah ingin memastikan anaknya masih di sana. Dadanya naik turun, mencoba menenangkan diri yang terus goyah.

“Bagaimanapun caranya… aku harus melunasi semua ini,” gumamnya pelan. “Agar anakku bisa pulang bersamaku.”

Pintu ICU terbuka pelan. Seorang dokter melangkah keluar, pandangannya langsung menemukan sosok ibu yang duduk sendiri itu.

“Bu, kondisi anak Ibu semakin membaik,” ucapnya ramah. “Kemungkinan satu atau dua jam lagi, anak Ibu akan sadar.”

Ibu itu berdiri cepat, hampir kehilangan keseimbangan. Matanya membesar, air mata kembali menggenang.

“Terima kasih, Dok… terima kasih banyak,” ucapnya berulang, suaranya bergetar.

“Sama-sama, Bu,” balas dokter itu lembut. “Jika anak Ibu sudah sadar, saya akan segera memberi tahu. Ibu bisa langsung menemuinya.”

“Baik, Dok,” jawabnya, mengangguk cepat.

Dokter itu tersenyum singkat sebelum berlalu. Langkahnya menjauh, meninggalkan lorong kembali sunyi.

Ibu itu kembali duduk perlahan. Tangannya masih menggenggam kertas itu, kini terasa semakin berat.

“Anakku…” bisiknya lirih. “Maafkan Ibu.”

Ia menunduk dalam, bahunya bergetar. Napasnya tersendat saat kata-kata berikutnya keluar dengan susah payah.

“Mungkin… Ibu harus menjual diri Ibu… untuk melunasi semua ini.”

Ia mengangkat kepala dan menatap lurus ke depan. Air mata di wajahnya telah berhenti mengalir, digantikan oleh tekad yang perlahan mengeras. Di tangannya, kertas itu kembali bergetar, bukan karena keraguan, melainkan karena keputusan yang baru saja ia ambil.

Di bagian lain rumah sakit, roda peristiwa terus bergerak.

Dua kotak makanan itu terasa berat di kedua tangan seorang petugas keamanan yang berjalan menyusuri lorong dengan langkah terukur. Ia menjaga keseimbangan, sesekali memperbaiki genggaman agar tidak tergelincir.

Di depan sebuah pintu bertuliskan nama Direktur Utama, ia berhenti.

Ia mengetuk pintu dengan punggung jarinya, pelan namun jelas.

“Dokter Dirga, saya datang membawa pesanan Anda.”

“Masuklah,” terdengar suara dari dalam.

Pintu terbuka perlahan. Petugas itu melangkah masuk, lalu berdiri tegak sebelum menundukkan kepala sedikit sebagai tanda hormat.

“Selamat sore, Dokter Dirga,” ucapnya. Ia mengangkat kedua kotak di tangannya sedikit. “Ini pesanannya.”

Dirga yang berdiri di balik meja menoleh; senyum tipis muncul di wajahnya. Ia mengangguk singkat. “Sore,” balasnya, lalu tangannya terangkat menunjuk ke sebuah meja kecil di dekat pintu. “Letakkan di sana saja.”

“Baik, Dok.”

Ia berjalan mendekat dan meletakkan kedua kotak tersebut dengan hati-hati. Setelah memastikan posisinya rapi, ia mundur selangkah.

“Saya izin pamit, Dokter Dirga,” ucapnya sopan.

“Silakan,” balas Dirga, lalu berhenti sejenak sebelum menambahkan, “oh ya, terima kasih.”

Petugas itu tersenyum dan mengangguk, lalu berbalik dan keluar dari ruangan.

Beberapa saat kemudian, Dirga telah duduk di ruang tamu kediaman Adeline.

Piring di tangan Adeline hampir tak pernah berhenti bergerak. Ia menyuap makanan dengan cepat, nyaris tanpa jeda, seolah setiap detik terlalu berharga untuk disia-siakan. Bunyi sendok beradu pelan dengan porselen mengisi keheningan ruangan. Di seberangnya, Dirga mengamati tanpa berkedip.

Senyum tipis beberapa kali muncul di wajah Dirga, sulit ia sembunyikan.

“Hei… kenapa kau tertawa seperti itu?” tanya Adeline tanpa menghentikan makannya.

Dirga segera menutup mulutnya, menggeleng cepat. Bahunya sedikit bergetar, menahan sisa tawa. “Tidak… tidak apa-apa, Nona.”

Adeline menurunkan sendoknya perlahan. Tatapannya menajam, menusuk langsung ke arah Dirga. “Jelaskan. Atau tulang ayam ini akan menembus kepalamu.”

Dirga tidak bergeming. Ia justru bersandar santai, seolah ancaman itu bukan hal baru baginya. “Aku hanya merasa senang… sekaligus heran,” ujarnya ringan.

Adeline mengunyah perlahan, matanya masih menatap tajam. “Senang? Heran? Kenapa?”

“Senang karena Anda sudah pulih,” jawab Dirga, lalu berhenti sejenak. “Dan heran…” Ia terkekeh pelan sebelum melanjutkan, “sekarang saya seperti melihat seseorang yang tidak makan selama seminggu.”

Sendok di tangan Adeline terhenti. Ia menatap Dirga lebih lama, lalu mengembuskan napas berat.

“Kau ini… sungguh menyebalkan,” ucapnya setengah kesal. “Kau sangat berbeda dari pendahulumu yang begitu takut padaku.”

Dirga tersenyum tipis, namun ada bayangan lain di matanya yang cepat ia sembunyikan.

Ia meluruskan duduknya, suaranya berubah lebih serius. “Nona Adeline, bukankah ada sesuatu yang ingin Anda bicarakan?”

Adeline terdiam sejenak. Gerakan tangannya berhenti, lalu ia meletakkan sendok di atas meja. “Ah… iya, kau benar,” ucapnya pelan. “Aku ingin kau membantu seorang anak korban kecelakaan yang sekarang berada di ruang ICU.”

Dirga mengangguk perlahan, seolah sudah menduga. “Jadi anak itu adalah yang Anda selamatkan?” tanyanya. “Lalu apa yang harus saya lakukan?”

“Ya, kau benar,” jawab Adeline tanpa ragu. “Aku ingin kau mengurus biaya sekolahnya sampai perguruan tinggi. Dan pastikan tidak ada yang merundungnya.”

Dirga menatapnya lebih dalam. Ada sesuatu di balik perintah itu yang tidak diucapkan.

“Nona… saya ingin bertanya sesuatu.”

“Silakan.”

“Apakah semua ini sepadan dengan hukuman yang Anda tanggung?”

Ruangan itu mendadak sunyi.

Adeline tidak langsung menjawab. Tatapannya kosong, seolah melihat sesuatu yang jauh dari tempat itu.

“Sudahlah… aku tidak ingin membahasnya,” ucapnya akhirnya, suaranya lebih pelan dari sebelumnya.

Dirga menunduk sedikit. Ia tidak melanjutkan, meski pertanyaan lain jelas masih tersimpan.

“Maafkan saya, Nona,” katanya. “Saya akan mengurus semua yang Anda perintahkan.”

Adeline mengangguk singkat, lalu melambaikan tangan sebagai isyarat.

Dirga berdiri, menundukkan kepala dengan hormat sebelum berjalan keluar. Pintu tertutup pelan di belakangnya, meninggalkan ruangan dalam kesunyian.

Kini, untuk pertama kalinya sejak semuanya terjadi, ruangan itu benar-benar sunyi.

Adeline menyandarkan punggungnya ke sofa. Kepalanya menengadah, menatap langit-langit tanpa fokus.

“Seandainya saja kau tidak mati…” bisiknya lirih. “Mungkin semua tidak akan berakhir seperti ini, Rangga Tirta.”

Nama itu menggantung di udara, dan perlahan air mata kembali jatuh di pipinya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Introvert
siapa Rangga Tirta? ...
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Rahasia Gelap Sang Dokter Cantik   Siapa Kau Sebenarnya?

    "Maaf membuatmu menunggu."Raka kembali ke ruang tamu sambil membawa sebuah map berwarna cokelat di tangannya. Ia menghampiri sofa, lalu menyerahkan map itu kepada Calista yang sejak tadi menunggu dengan kedua tangan terlipat di depan dada."Ini hasil pemeriksaan ulang Tuan Adrian," ucap Raka. "Aku ingin mendiskusikannya bersamamu."Calista menerima map itu tanpa banyak bicara. Jemarinya segera membuka halaman demi halaman, sementara tatapannya langsung menelusuri setiap hasil pemeriksaan dengan saksama."Kau mau makan apa, Dokter Calista?" tanya Raka tiba-tiba. Ia mengeluarkan ponselnya, lalu mulai membuka aplikasi pemesanan makanan."Tidak," jawab Calista singkat. Pandangannya tetap tertuju pada berkas di tangannya, seolah tidak tertarik sedikit pun dengan pertanyaan itu."Baiklah." Raka mengangguk pelan sambil menggeser layar ponselnya. "Kalau begitu aku pesan dua porsi yang sama saja.""Terserah kau." Calista membalik halaman berikutnya tanpa mengangkat kepala. "Aku tidak akan mem

  • Rahasia Gelap Sang Dokter Cantik   Pertemuan tak Terduga

    “Dokter Raka...” panggil Dokter Hadi sambil mengenakan tas kerjanya. Ia berdiri dari kursinya dan menoleh ke arah Raka yang masih menatap layar komputer. “Kau tidak pulang?”"Sebentar lagi," jawab Raka tanpa mengalihkan pandangan dari berkas yang sedang diperiksanya. Jemarinya masih bergerak membolak-balik hasil pemeriksaan pasien. "Masih ada beberapa hal yang harus kuselesaikan untuk persiapan besok.""Baiklah kalau begitu, aku pulang duluan." Dokter Hadi menganggukkan kepala sambil tersenyum tipis. "Jangan bekerja terlalu malam."Raka hanya membalas dengan anggukan kecil. Tak lama kemudian, pintu ruangan tertutup pelan, meninggalkan dirinya kembali larut dalam tumpukan berkas dan keheningan ruang dokter spesialis.Namun tiba-tiba, Dokter Hadi berbalik dan kembali membuka pintu kaca ruang dokter spesialis."Oh iya, dokter Raka," ucap dokter Hadi. "Sekarang kita sudah menjadi rekan kerja. Tidak usah terlalu formal denganku."Raka tertawa sebentar sebelum kembali berkata,"Siap, dokter

  • Rahasia Gelap Sang Dokter Cantik   Pemeriksaan Ulang

    Waktu terus berlalu, tetapi Calista belum juga kembali. Raka beberapa kali mengangkat pandangannya ke arah jam itu sebelum kembali menatap meja kerja Calista yang masih kosong."Kenapa kau terlihat gelisah seperti itu, Dokter Raka?" tanya Dokter Hadi. Ia menghentikan pekerjaannya sejenak lalu menoleh ke arah Raka yang sejak tadi tampak tidak tenang."Saya akan melakukan pemeriksaan ulang secara menyeluruh kepada Tuan Adrian sebentar lagi," jawab Raka sambil mengembuskan napas pelan. Tatapannya kembali tertuju pada meja Calista. "Tapi Dokter Calista belum juga kembali.""Oh, jadi itu penyebabnya." Dokter Hadi menganggukkan kepala. Ia melirik jam dinding sebelum kembali menatap Raka. "Sepertinya kau harus melakukannya sendiri. Dokter Calista memang sangat jarang kembali ke departemen kalau hari sudah sore."Raka terdiam beberapa saat. Ia akhirnya mengangguk, lalu meraih map rekam medis yang telah dipersiapkannya sejak tadi."Baiklah kalau begitu," ucap Raka sambil berdiri dari kursinya.

  • Rahasia Gelap Sang Dokter Cantik   Permintaan Maaf

    Di ruang krematorium, peti jenazah Tuan Baskoro telah dipersiapkan untuk memasuki mesin kremasi. Dua orang petugas berdiri di sisi peti, sementara Raka dan Kevin ikut membantu mendorongnya dengan perlahan. Di sudut ruangan, Nita tetap berada di samping Arvin, menemaninya sejak tadi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.Tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka. Calista melangkah masuk dengan tenang. Kehadirannya membuat beberapa orang menoleh, termasuk Nita dan Arvin yang langsung mengalihkan pandangan ke arahnya."Kakak..." ucap Arvin lirih.Calista membalas dengan senyum tipis, lalu menghampiri Arvin hingga berdiri di sampingnya. "Arvin," ucapnya lembut, "ini adalah kesempatan terakhirmu untuk berpamitan kepada ayahmu."Arvin mengangguk pelan. Ia tidak melangkah mendekati peti jenazah, melainkan memejamkan mata sambil merapatkan kedua telapak tangannya.Ketika peti itu perlahan bergerak memasuki mesin kremasi, bibirnya bergetar menahan tangis. "Ayah... selamat tinggal," ucapnya lirih.

  • Rahasia Gelap Sang Dokter Cantik   Nyaris Kehilangan Kendali

    "Rangga Tirta..." ucap Putri Jayasari lirih. Kepalanya masih bersandar di bahu pria itu. "Apakah kau senang telah diangkat menjadi Jenderal Perang?"Rangga Tirta yang semula menegang perlahan memaksa dirinya untuk tetap tenang. Ia menatap lurus ke depan sebelum akhirnya mengembuskan napas pelan."Sepertinya lebih banyak tidak senangnya," jawab Rangga Tirta."Kenapa?" tanya Putri Jayasari. Ia sedikit mengangkat wajahnya, berusaha mencari jawaban dari ekspresi pria di sampingnya."Tanggung jawab yang hamba pikul kini jauh lebih besar dibandingkan sebelumnya," ucap Rangga Tirta tenang. "Jika hamba memimpin perang, bukan hanya nyawa hamba yang dipertaruhkan, tetapi juga nyawa seluruh prajurit yang berada di bawah komando hamba.""Lalu?" Putri Jayasari kembali bertanya. Tatapannya tidak pernah lepas dari wajah pria itu. "Apa lagi yang membuatmu tidak senang?"Rangga Tirta terdiam sejenak. Pandangannya kosong menatap lantai sebelum akhirnya tersenyum tipis."Entahlah." Ia menggeleng pelan.

  • Rahasia Gelap Sang Dokter Cantik   Pertemuan Terlarang

    Setelah pelantikan resmi selesai, para prajurit mengadakan pesta besar untuk merayakan pengangkatan Rangga Tirta sebagai Jenderal Perang Kerajaan Jayantara. Sebelumnya, Rudha Wisesa telah meminta izin kepada Maharaja Jayawardhana untuk mengadakan perayaan tersebut, dan sang raja mengizinkannya. Hingga malam tiba, suara tawa, dentingan gelas, serta alunan musik masih memenuhi camp para prajurit."Rangga Tirta," ucap Rudha Wisesa dengan wajah memerah karena pengaruh arak. "Sedikit sekali kau minum. Ini pesta untukmu, jadi habiskan semuanya."Rangga Tirta hanya tersenyum tipis sambil menatap gelas di tangannya. "Jenderal tahu aku tidak terbiasa minum sebanyak itu," jawabnya tenang sebelum meneguk sedikit arak di dalam gelasnya."Tidak, aku tahu itu bukan alasanmu." Rudha Wisesa menunjuknya dengan gelas yang hampir kosong. "Jika kau benar-benar seorang lelaki, minumlah sampai tidak sadarkan diri. Percayalah, itu sedikit membantu menghadapi perasaan yang tidak bisa kau lawan."Rangga Tirta

  • Rahasia Gelap Sang Dokter Cantik   Keluh Kesah Residen

    Waktu berlalu tanpa terasa. Saat langit di luar jendela mulai berubah jingga, ruang kerja dokter spesialis sudah kembali sepi. Calista yang sebelumnya berada di sana telah pergi lebih dulu seperti biasa."Waktunya pulang," gumam Raka sambil meregangkan bahunya yang mulai terasa pegal. Pandangannya

  • Rahasia Gelap Sang Dokter Cantik   Sesuatu yang Berbeda

    Di ruang VVIP, Raka duduk santai di sofa yang berada di samping tempat tidur pasien. Di hadapannya, Sena dan istrinya duduk berdampingan, sementara Tuan Adrian bersandar tenang di atas ranjang.Tak seorang pun menyadari bahwa di sudut ruangan, Adeline tengah berdiri dengan tenang. Sosok wanita itu

  • Rahasia Gelap Sang Dokter Cantik   Resiko yang Pantas

    "Tunggu." Dirga yang baru saja tiba di depan ruang kerjanya mendadak menghentikan langkah. Tangannya yang sudah hampir menyentuh gagang pintu kembali ditarik."Aku harus menyusun kata-kata yang tepat untuk menghadapi Nona Adeline," gumamnya pelan. Ia bahkan sempat mengusap wajahnya sendiri sebelum

  • Rahasia Gelap Sang Dokter Cantik   Dipercayakan

    Di ruang kerjanya, Dirga duduk santai di sofa tamu sambil menunggu kedatangan Raka. Sesekali ia melirik jam tangan di pergelangan kirinya, sementara jemarinya mengetuk pelan sandaran sofa.“Kemana sebenarnya Nona Adeline pergi?” gumamnya pelan. Sudut bibirnya perlahan terangkat. “Padahal rumah saki

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status