MasukAir menetes dari ujung rambutnya saat Adeline melangkah keluar dari bathtub. Uap tipis masih bergelayut di udara, sementara kilau api biru yang semula menyelimuti tubuhnya perlahan memudar. Namun ada satu hal yang berubah. Rambutnya kini memutih, menciptakan kontras yang mencolok dengan kulitnya yang pucat.
Ia meraih pakaiannya satu per satu dan mengenakannya dengan gerakan tenang. Kancing terakhir terpasang, ia mengangkat dagu sedikit dan mengembuskan napas panjang ke udara. Hembusan itu seolah membawa sesuatu yang tak terlihat. Perlahan, warna putih di rambutnya memudar, ditelan gelap hingga kembali hitam seperti semula. Ia meraih ponsel di atas meja tanpa ragu. Layar menyala, dan dalam hitungan detik, panggilan terhubung. “Dirga, aku sangat lapar. Bawakan makanan kesukaanku seperti biasa.” “Nona… apakah Anda sudah pulih?” suara di seberang terdengar cepat, hampir memotong. Adeline memejamkan mata sejenak, lalu membukanya kembali. “Tentu saja,” jawabnya singkat. “Cepatlah. Tidak usah banyak bertanya.” “Baik, Nona,” sahut Dirga. Ada jeda singkat sebelum ia menambahkan dengan nada ringan, “tapi saya selalu heran dengan kebiasaan Anda yang satu ini. Bagaimana mungkin malaikat maut bisa kelaparan?” Langkah Adeline terhenti. Tatapannya menajam, meski tak ada yang melihat. “Jika kau terus mengoceh, akan kubuat kematianmu lebih cepat,” ucapnya dingin. Di seberang, Dirga justru tertawa pelan. “Iya, Nona Calista Adeline, sang malaikat maut yang baik hati.” “Dirga Adinata…” suara Adeline naik satu tingkat, tajam dan penuh peringatan. Sambungan terputus seketika. Ia menurunkan ponsel perlahan, lalu berjalan menuju pintu. Langkahnya kembali stabil, seolah rasa sakit tadi tak pernah ada. Di waktu yang hampir bersamaan, suasana berbeda menyelimuti ruang tunggu ICU. Seorang ibu duduk membungkuk, tatapannya terpaku pada lembaran administrasi yang kusut di genggamannya. Angka-angka tercetak rapi di atasnya, dingin dan tak terbantahkan. Napasnya tertahan setiap kali matanya menyusuri baris demi baris biaya. Jemarinya mencengkeram kertas itu semakin kuat. Bibirnya bergetar, seolah menahan sesuatu yang tak lagi bisa ditahan. “Ya Tuhan… dari mana aku mendapatkan uang sebanyak ini,” lirihnya. Air mata jatuh tanpa ia sadari. Ia mengusapnya cepat, namun yang lain segera menyusul. Kepalanya perlahan terangkat, matanya mencari pintu ruang ICU di ujung lorong. Ia menatap ke arah itu lama, seolah ingin memastikan anaknya masih di sana. Dadanya naik turun, mencoba menenangkan diri yang terus goyah. “Bagaimanapun caranya… aku harus melunasi semua ini,” gumamnya pelan. “Agar anakku bisa pulang bersamaku.” Pintu ICU terbuka pelan. Seorang dokter melangkah keluar, pandangannya langsung menemukan sosok ibu yang duduk sendiri itu. “Bu, kondisi anak Ibu semakin membaik,” ucapnya ramah. “Kemungkinan satu atau dua jam lagi, anak Ibu akan sadar.” Ibu itu berdiri cepat, hampir kehilangan keseimbangan. Matanya membesar, air mata kembali menggenang. “Terima kasih, Dok… terima kasih banyak,” ucapnya berulang, suaranya bergetar. “Sama-sama, Bu,” balas dokter itu lembut. “Jika anak Ibu sudah sadar, saya akan segera memberi tahu. Ibu bisa langsung menemuinya.” “Baik, Dok,” jawabnya, mengangguk cepat. Dokter itu tersenyum singkat sebelum berlalu. Langkahnya menjauh, meninggalkan lorong kembali sunyi. Ibu itu kembali duduk perlahan. Tangannya masih menggenggam kertas itu, kini terasa semakin berat. “Anakku…” bisiknya lirih. “Maafkan Ibu.” Ia menunduk dalam, bahunya bergetar. Napasnya tersendat saat kata-kata berikutnya keluar dengan susah payah. “Mungkin… Ibu harus menjual diri Ibu… untuk melunasi semua ini.” Ia mengangkat kepala dan menatap lurus ke depan. Air mata di wajahnya telah berhenti mengalir, digantikan oleh tekad yang perlahan mengeras. Di tangannya, kertas itu kembali bergetar, bukan karena keraguan, melainkan karena keputusan yang baru saja ia ambil. Di bagian lain rumah sakit, roda peristiwa terus bergerak. Dua kotak makanan itu terasa berat di kedua tangan seorang petugas keamanan yang berjalan menyusuri lorong dengan langkah terukur. Ia menjaga keseimbangan, sesekali memperbaiki genggaman agar tidak tergelincir. Di depan sebuah pintu bertuliskan nama Direktur Utama, ia berhenti. Ia mengetuk pintu dengan punggung jarinya, pelan namun jelas. “Dokter Dirga, saya datang membawa pesanan Anda.” “Masuklah,” terdengar suara dari dalam. Pintu terbuka perlahan. Petugas itu melangkah masuk, lalu berdiri tegak sebelum menundukkan kepala sedikit sebagai tanda hormat. “Selamat sore, Dokter Dirga,” ucapnya. Ia mengangkat kedua kotak di tangannya sedikit. “Ini pesanannya.” Dirga yang berdiri di balik meja menoleh; senyum tipis muncul di wajahnya. Ia mengangguk singkat. “Sore,” balasnya, lalu tangannya terangkat menunjuk ke sebuah meja kecil di dekat pintu. “Letakkan di sana saja.” “Baik, Dok.” Ia berjalan mendekat dan meletakkan kedua kotak tersebut dengan hati-hati. Setelah memastikan posisinya rapi, ia mundur selangkah. “Saya izin pamit, Dokter Dirga,” ucapnya sopan. “Silakan,” balas Dirga, lalu berhenti sejenak sebelum menambahkan, “oh ya, terima kasih.” Petugas itu tersenyum dan mengangguk, lalu berbalik dan keluar dari ruangan. Beberapa saat kemudian, Dirga telah duduk di ruang tamu kediaman Adeline. Piring di tangan Adeline hampir tak pernah berhenti bergerak. Ia menyuap makanan dengan cepat, nyaris tanpa jeda, seolah setiap detik terlalu berharga untuk disia-siakan. Bunyi sendok beradu pelan dengan porselen mengisi keheningan ruangan. Di seberangnya, Dirga mengamati tanpa berkedip. Senyum tipis beberapa kali muncul di wajah Dirga, sulit ia sembunyikan. “Hei… kenapa kau tertawa seperti itu?” tanya Adeline tanpa menghentikan makannya. Dirga segera menutup mulutnya, menggeleng cepat. Bahunya sedikit bergetar, menahan sisa tawa. “Tidak… tidak apa-apa, Nona.” Adeline menurunkan sendoknya perlahan. Tatapannya menajam, menusuk langsung ke arah Dirga. “Jelaskan. Atau tulang ayam ini akan menembus kepalamu.” Dirga tidak bergeming. Ia justru bersandar santai, seolah ancaman itu bukan hal baru baginya. “Aku hanya merasa senang… sekaligus heran,” ujarnya ringan. Adeline mengunyah perlahan, matanya masih menatap tajam. “Senang? Heran? Kenapa?” “Senang karena Anda sudah pulih,” jawab Dirga, lalu berhenti sejenak. “Dan heran…” Ia terkekeh pelan sebelum melanjutkan, “sekarang saya seperti melihat seseorang yang tidak makan selama seminggu.” Sendok di tangan Adeline terhenti. Ia menatap Dirga lebih lama, lalu mengembuskan napas berat. “Kau ini… sungguh menyebalkan,” ucapnya setengah kesal. “Kau sangat berbeda dari pendahulumu yang begitu takut padaku.” Dirga tersenyum tipis, namun ada bayangan lain di matanya yang cepat ia sembunyikan. Ia meluruskan duduknya, suaranya berubah lebih serius. “Nona Adeline, bukankah ada sesuatu yang ingin Anda bicarakan?” Adeline terdiam sejenak. Gerakan tangannya berhenti, lalu ia meletakkan sendok di atas meja. “Ah… iya, kau benar,” ucapnya pelan. “Aku ingin kau membantu seorang anak korban kecelakaan yang sekarang berada di ruang ICU.” Dirga mengangguk perlahan, seolah sudah menduga. “Jadi anak itu adalah yang Anda selamatkan?” tanyanya. “Lalu apa yang harus saya lakukan?” “Ya, kau benar,” jawab Adeline tanpa ragu. “Aku ingin kau mengurus biaya sekolahnya sampai perguruan tinggi. Dan pastikan tidak ada yang merundungnya.” Dirga menatapnya lebih dalam. Ada sesuatu di balik perintah itu yang tidak diucapkan. “Nona… saya ingin bertanya sesuatu.” “Silakan.” “Apakah semua ini sepadan dengan hukuman yang Anda tanggung?” Ruangan itu mendadak sunyi. Adeline tidak langsung menjawab. Tatapannya kosong, seolah melihat sesuatu yang jauh dari tempat itu. “Sudahlah… aku tidak ingin membahasnya,” ucapnya akhirnya, suaranya lebih pelan dari sebelumnya. Dirga menunduk sedikit. Ia tidak melanjutkan, meski pertanyaan lain jelas masih tersimpan. “Maafkan saya, Nona,” katanya. “Saya akan mengurus semua yang Anda perintahkan.” Adeline mengangguk singkat, lalu melambaikan tangan sebagai isyarat. Dirga berdiri, menundukkan kepala dengan hormat sebelum berjalan keluar. Pintu tertutup pelan di belakangnya, meninggalkan ruangan dalam kesunyian. Kini, untuk pertama kalinya sejak semuanya terjadi, ruangan itu benar-benar sunyi. Adeline menyandarkan punggungnya ke sofa. Kepalanya menengadah, menatap langit-langit tanpa fokus. “Seandainya saja kau tidak mati…” bisiknya lirih. “Mungkin semua tidak akan berakhir seperti ini, Rangga Tirta.” Nama itu menggantung di udara, dan perlahan air mata kembali jatuh di pipinya.Aroma anyir darah tercium dari sudut-sudut aula utama yang kini telah berubah menjadi kuburan massal. Puluhan jasad prajurit istana yang melakukan bunuh diri massal terkapar tumpang tindih dengan sisa pasukan perbatasan yang gugur. Dalam waktu kurang dari satu hari, kemegahan Kerajaan Jayantara runtuh total, menyisakan keheningan yang mencekam dan pemandangan yang amat mengerikan.Putri Jayasari perlahan turun dari atas singgasana berdarah, melangkah gontai melewati genangan cairan merah yang membasahi lantai. Ujung gaunnya yang koyak terseret di atas lantai, sementara tangan kanannya masih menggenggam erat pedang yang telah merenggut nyawa ayahandanya. Langkah kakinya terhenti tepat di samping jasad Rangga Tirta yang kini telah terbujur kaku."Tunggu aku, Rangga... Dunia ini tidak lagi memiliki tempat bagi kita," bisik Putri Jayasari dengan suara lirih yang dipenuhi keputusasaan mendalam sembari menatap tubuh Rangga Tirta.Tanpa ragu sedikit pun, ia membalikkan arah hulu pedangnya da
Putri Jayasari bergerak bagaikan hembusan angin malam yang mematikan, menebas leher dua prajurit pengawal yang mencoba mendekatinya hingga darah segar menyembur ke pilar batu. Tidak ada lagi kelembutan seorang putri di dalam dirinya, hanya ada seonggok raga yang digerakkan oleh kepedihan dan dendam mutlak.Tebasan demi tebasan ia layangkan tanpa ampun, merubuhkan setiap prajurit istana yang berani menghadang langkahnya menuju altar singgasana. Di sela-sela dentingan besi dan erangan sekarat korbannya, air mata terus mengalir membasahi pipinya yang tercoreng noda merah. Ia mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, menatap bilah baja itu dengan pandangan yang kosong sekaligus penuh luka."Lihatlah pedangku, Rangga Tirta..." bisik Putri Jayasari dengan suara parau yang menyayat hati di tengah riuhnya pertempuran. "Bukankah sekarang aku sudah mampu menyaingimu di medan perang?!" Air matanya menetes jatuh tepat di atas sabetan darah baru pada mata pedangnya, merefleksikan kepedihan mendalam ata
Surya Brama mengepalkan kedua tangannya hingga bergetar menyaksikan sang jenderal diperlakukan layaknya seorang kriminal rendahan. Amarahnya meluap melampaui batas kesabaran, merobek seluruh rasa hormatnya pada institusi kerajaan. Dengan gerakan tegas, ia melangkah maju dan melepaskan seluruh atribut militernya ke tanah berbatu alun-alun."Aku tidak sudi mengabdi pada kerajaan yang memperlakukan pahlawannya seperti binatang!" seru Surya Brama, tatapannya menembus langsung ke arah sepasang mata Patih Wiranegara. "Ikat aku dan bawa aku bersama Jenderal Rangga Tirta, karena aku tidak akan membiarkan beliau berjalan sendirian!""Sangat heroik, Surya Brama. Ikat pria bodoh ini bersama jenderalnya!" balas Patih Wiranegara sembari melambaikan tangan dengan nada meremehkan.Kedua tangan Surya Brama pun segera diikat erat menggunakan tali tambang tebal oleh para prajurit istana. Bersama Jenderal Rangga Tirta, ia digiring melewati koridor-koridor megah menuju aula utama di bawah kawalan ketat p
Dua hari telah berlalu sejak Jenderal Rangga Tirta ditetapkan sebagai pengkhianat, dan situasi di Kerajaan Jayantara tampak kembali seperti biasa. Namun, keheningan itu mendadak pecah ketika dari kejauhan gerbang kota, kepulan debu tipis membubung ke udara. Tiga puluh lima orang prajurit mengendarai kuda dengan pakaian zirah yang hancur, dipimpin oleh Jenderal Rangga Tirta yang tubuhnya dipenuhi luka serta darah yang mengering.Rangga Tirta berhasil kembali dengan selamat, namun pasukan lainnya banyak yang telah gugur. Tepat ketika hampir sampai di gerbang istana, Jenderal Rangga Tirta turun dari kudanya diikuti oleh pasukan di belakangnya, lalu berjalan menuju pintu gerbang.Tepat ketika kaki mereka hendak menginjak ambang gerbang kota, beberapa tombak besar mendadak disilangkan di depan dada Rangga Tirta. Dua orang prajurit penjaga gerbang berdiri kokoh dengan tatapan dingin, sama sekali tidak menunjukkan rasa hormat kepada sang jenderal. Barisan pasukan di belakang Rangga Tirta sek
Maharaja Jayawardhana masih duduk termenung di singgasananya, menatap kosong ke arah lantai batu. Guratan kesedihan yang mendalam tampak di wajahnya karena prajurit-prajurit terbaik yang dikirimkannya mungkin telah gugur.Kehadiran sang patih yang tiba-tiba membuat sang raja perlahan mengangkat kepalanya dengan raut wajah yang letih."Maharaja Jayawardhana, mohon ampun atas kelancangan hamba yang kembali secepat ini," ucap Patih Wiranegara sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Namun, hamba baru saja menerima sebuah laporan yang sangat mengejutkan mengenai kelakuan Jenderal Rangga Tirta di belakang Anda.""Laporan apa lagi yang kau bawa, Wiranegara?" tanya Maharaja Jayawardhana dengan nada suara berat yang dipenuhi rasa curiga. "Jangan membuatku semakin pusing dengan urusan yang tidak mendasar.""Ini mengenai kehormatan keluarga istana, Maharaja," jawab Patih Wiranegara. Ia sengaja menurunkan intonasi suaranya agar terdengar rahasia dan genting."Hamba mendapatkan bukti bahwa Jend
Putri Jayasari berjalan tergesa-gesa menyusuri lorong istana. Langkahnya begitu cepat hingga prajurit yang baru saja menyampaikan laporan kepadanya harus berlari kecil untuk mengimbangi langkah sang putri. Wajah Jayasari memerah, sementara kedua tangannya mengepal erat, menahan amarah yang terus bergolak di dalam dadanya.Semakin dekat dengan aula utama, napas Putri Jayasari semakin memburu. Di dalam pikirannya saat ini hanyalah keselamatan Rangga Tirta yang kini bertarung di perbatasan tanpa bala bantuan.Pintu aula utama terbuka dengan keras. Putri Jayasari melangkah masuk tanpa memedulikan etiket kerajaan, membuat seluruh perhatian di dalam ruangan langsung tertuju kepadanya. Tatapannya segera mengunci Maharaja Jayawardhana yang duduk di atas singgasana, sementara Patih Wiranegara masih berdiri tidak jauh dari sang raja."Ayahanda, apa maksud dari semua keputusan ini?!" seru Putri Jayasari. Dadanya naik turun menahan emosi, sementara suaranya bergetar karena kemarahan yang sudah ti
Pintu lift belum sepenuhnya terbuka ketika kata-kata itu terlepas dari bibirnya. “Sepertinya aku harus bertanya langsung kepada Ayah,” gumam Dirga pelan. Tatapannya kosong, terpantul samar di dinding logam lift. “Apa yang sebenarnya terjadi pada masa lalu Nona Adeline…?” Begitu pintu terbuka, ia m
Wanita bergaun hitam itu kembali ke ruangan tempat ia pertama kali muncul. Ia duduk di depan meja marmer, punggungnya tegak, napasnya tertahan. Tangan kirinya mencengkeram sesuatu yang berdenyut, berusaha ia tahan agar tidak lepas dari kendali. Pakaiannya telah kembali seperti semula. Namun wajahny
“Kakak datang untuk menjemputmu,” ucap wanita bergaun hitam itu lembut; suaranya seolah mengalun di antara ruang yang terasa asing dan sunyi. Anak kecil itu menatapnya dengan ragu. Bahunya sedikit merapat, jemarinya saling menggenggam di depan dada, seperti mencari perlindungan yang tak terlihat. T
“Anak laki-laki, sekitar tiga belas tahun, korban tabrak lari!” teriak sopir ambulans dengan suara panik. “Satu… dua… tiga… angkat!” perintah dokter itu tegas. Tubuh anak itu dipindahkan dengan cepat. Kepalanya terkulai, wajahnya pucat, napasnya nyaris tak terdengar. Dokter membuka kelopak matanya







